< >

Holding PTPN Dipercepat

Sabtu, 23 Februari 2008 08:17
Kapanlagi.com - Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, mengatakan, terkait semakin mengecilnya pangsa pasar ke-14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN) pihaknya akan mempercepat proses pembentukan perusahaan induk (holding) dan penerapan penawaran saham perdana (IPO).

"Kita akan dorong agar ke-14 PTP ini semakin agresif terlebih menghadapi kompetitor asing dan swasta yang semakin memperluas market sharenya," kata Meneg BUMN, Sofyan Djalil, di Jakarta, Jumat.

Ia mengakui, ke-14 BUMNB perkebunan yang ada saat ini semakin mengecil market sharenya di tengah semakin agresifnya investor asing dan swasta di bidang perkebunan Tanah Air.

Oleh karena itu, pihaknya akan segera mempercepat proses pembentukan holding dan penerapan IPO pada sejumlah PTPN untuk mendorong agresivitas ke-14 BUMN dalam memperluas pangsa pasar.

"Dengan holding dan IPO, PTPN akan mempunyai sumber keuangan lain dalam jumlah beberapa triliun yang nantinya dapat mereka gunakan untuk mengelola kebun atau industri hilirnya," kata Sofyan.

Pihaknya mengusulkan sejumlah PTPNB untuk dilepas sahamnya ke publik melalui IPO (Initial Publik Offering) yang kemudian disetujui oleh Komite Privatisasi sebanyak tiga PTPN yaitu PTPN 3, PTPN 4, dan PTPN 7.

Sedangkan realisasi terbentuknya perusahaan induk (holding) bagi 15 BUMN yang bergerak di sektor perkebunan yaitu PTPN I-XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) yang ditargetkan pada akhir bulan ini.

"Segera dan secepatnya holding perkebunan ini harus terselesaikan," kata Sofyan sebelumnya.

Ia optimistis holding BUMNB perkebunan akan teralisasi pada awal 2008 yang memang sempat tertunda dari rencana semula yang ditargetkan rampung akhir 2007.

"Saat ini proses-prosesnya sudah pada tahap akhir dan tinggal menunggu PP," katanya.

Pihaknya menargetkan, di Indonesia akan segera terbentuk perusahaan induk (holding) BUMN perkebunan di mana PTPN I sampai PTPN XIV serta PT RNI sebagai anak perusahaan.

Pada sektor perkebunan terdapat 14 PTPN dan satu PT RNI dengan total penjualan bersih mencapai Rp20,7 triliun dan ekuitas sebesar Rp7,3 triliun.

Berdasarkan kajian konsultan, alternatif pembentukan perusahaan induk yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk holding yang menangani pemasaran, investasi, dan kebijakan strategis.

Jika holding tersebut terbentuk maka nilai ekuitas BUMN perkebunan akan meningkat dari Rp30,03 triliun pada 2005 menjadi Rp62,27 triliun pada 2009 atau meningkat 107,35 %. (*/rsd)