Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Eddy Wijanarko, di Surabaya, Sabtu, mengatakan, krisis listrik merupakan ancaman serius terhadap proses produksi industri sepatu.
Eddy mengatakan, jika pemadaman listrik benar-benar terjadi maka proses produksi akan terganggu.
Produktivitas industri sepatu akan menurun, sementara biaya produksi justru membengkak karena perusahaan tetap harus membayar buruh.
Selain itu, industri, khususnya industri sepatu untuk pasar ekspor, juga terancam kena komplain dari pembeli (buyer).
"Jika listrik padam, maka pada kesempatan berikutnya produksi harus digenjot. Untuk itu, industri harus membayar buruh dengan biaya yang lebih, karena mereka harus lembur," katanya.
Ditanya besarnya kerugian jika listrik padam, Eddy mengatakan, besarnya kerugian sangat tergantung tingkat pemadaman dan lamanya listrik tidak menyala.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum GPEI Jatim, Isdarmawan Asrikan, bahwa pemadaman listrik akan mengancam proses produksi industri pada umumnya.
Meski sejumlah industri telah memiliki generator set (genset) sebagai cadangan untuk suplai listrik, tapi kapasitasnya sangat terbatas.
Karena itu, ia berharap, pihak PLN sebisa mungkin tetap menjaga kelancaran pasokan listrik untuk kalangan industri agar dampaknya tidak meluas.
Pasokan listrik di Jawa Bali belakangan mengalami krisis seiring terhambatnya pasokan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik dampak cuaca buruk di perairan Indonesia. (kpl/rit)