Normalisasi Sungai Juwana ini sangat penting untuk mengurangi bencana banjir dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi yakni sekitar Rp750 miliar, kata Wakil Bupati Pati, Kartina Sukawati, Sabtu.
Menurut dia, dari tahun ke tahun tidak ada solusi nyata untuk mengatasi bencana banjir di Pati. Kerugian miliaran rupiah untuk perbaikan infrastruktur, perbaikan tanaman padi, dan penduduk kehilangan mata pencaharian.
Penanganan dan pencegahan bencana banjir tidak pernah dilakukan. Banjir yang selalu menggenangi Pati disebabkan daerah ini merupakan tempat pertemuan dua sungai. Sehingga Pati menjadi buangan air sungai, air pintu air Wilalung juga dialirkan ke Pati, katanya.
Bencana banjir yang terjadi lebih diakibatkan kondisi Sungai Juwana mengalami pendangkalan dan penyempitan. Begitu air memasuki jalur sungai dalam jumlah banyak, daerah yang berada di jalur sungai dipastikan kebanjiran.
Banjir yang menggenangi rumah warga dan lahan pertanian, air tidak hanya berlangsung dalam satu dua hari, melainkan sampai tiga bulan.
Air yang menggenangi ini berlangsung sejak 27 Desember 2007. air baru surut selama satu minggu dan di akhir Januari lalu. Kemudian saat mendekati Imlek, desa-desa yang menjadi daerah banjir kembali tergenang.
Saat ini, menurut dia, daerah yang tergenang meluas dari 51 desa yang tersebar di tujuh kecamatan, menjadi 68 desa di 12 kecamatan. Bahkan, banjir kali ini menyebabkan kemacetan jalur pantura sampai puluhan kilometer.
Akibat bencana ini, pemkab belum melakukan menghitung kerugian secara pasti. Namun Kartina Sukawati memperkirakan kerugian yang diderita sekitar Rp400 miliar.
Selain pendangkalan dan penyempitan Sungai Juwana, dia mengatakan, bencana ini juga disebabkan penggudulan hutan yang berada di lereng Gunung Muria. Banjir disertai lumpur, sehingga mempercepat pendangkalan Sungai Juwana.
Untuk penanganan dan pencegahan bencana banjir ini, Pemkab Pati tidak mampu melakukan pengerukan atau normalisasi Sungai Juwana. Karena membutuhkan dana sekitar Rp740 miliar hingga Rp750 miliar. (*/cax)