Kegagalan tersebut menjadi sorotan media masa nasional di Tokyo, Sabtu, menyusul berakhirnya perundingan soal eksplorasi itu yang dilakukan antara Wakil Menlu Jepang Mitoji Yabanuka dengan mitranya dari China, Wang Yi, di Beijing pada Jumat (23/2) lalu.
Kebuntuan perundingan soal eksplorasi di ladang gas di kawasan Laut China Timur itu menambah ramai pemberitaan yang menyangkut kedua negara, setelah sebelumnya Jepang diramaikan oleh kasus gyoza (sejenis pangsit) beracun yang diimpor dari Negeri Tirai Bambu itu.
Kasus Gyoza menjadi sorotan publik Jepang dalam dua bulan terakhir, setelah media massa Jepang memberitakan ratusan warganya mengalami keracunan setelah memakan gyoza.
Wakil Menlu Jepang Mitoji Yabunaka, seperti diberitakan Kyodo, menyatakan, pertemuan mengalami kebuntuan meskipun untuk sekedar mencari persamaan kepentingan mendasar tentang perlunya melakukan mengeksplorasi minyak dan gas di kawasan tersebut.
Namun seperti biasa, kegagalan saat itu tetap memberikan kemungkinan bagi pembicaraan diplomatik selanjutnya, yang menurut Yabunaka, tetap memberikan harapan, terutama saat kunjungan Presiden China Hu Jintao pada musim semi (spring) di bulan April tahun ini.
"Diharapkan akan ada hasil dari kunjungan Presiden China ke Jepang pada musim semi ini," katanya.
China sendiri telah menunjukkan harapan yang sama untuk secepatnya mencapai kesepakatan dengan Jepang selama kunjungan Presiden Hu Jintao nanti.
Pimpinan pemerintahan kedua negara juga telah melakukan saling kunjung dalam dua tahun ini, yang menandai kembalinya hubungan akrab kedua negara.
Sebelumnya dalam 10 tahun hubungan kedua negara tetap tegang dan tidak ada saling kunjung di antara para pimpinan Jepang-China.
Kebuntuan itu terpecahkan oleh gebrakan PM Jepang Shinzo Abe ke Beijing pada Oktober 2006. sejak itu saling kunjung petinggi negara kedua negara mulai berlangsung.
Namun dalam soal eksplorasi minyak dna gas ini, Jepang ternyata memiliki pendirian sendiri dalam menggarap kerja sama ekonomi tersebut dengan mengajukan sejumlah persyaratan ke Beijing sebelum mencapai kesepakatan.
Dua negara sebetulnya sudah sama-sama menyadari perlunya membangun kerja sama di wilayah perairan yang masih menjadi sengketa perbatasan di antara keduanya.
Kebuntuan terjadi setelah kedua belah pihak masuk dalam penentuan lokasi mana yang akan digarap dalam eksplorasi tersebut.
Kegagalan ini menambah panjang daftar pertemuan yang telah dilakukan sebelumnya sejak dua tahun terakhir, meski persahabatan mulai bersemi di antara Tokyo - Beijing. (*/bun)