Dalam acara yang berlangsung di ruang tengah gedung aula kota (city hall) yang menjadi ikon Pemkot Brisbane dan dihadiri ratusan mahasiswa baru mancanegara, termasuk Indonesia, China, Vietnam, Inggris, Kanada, dan Meksiko itu, digelar beragam hiburan, penarikan hadiah, dan makanan halal gratis.
Para mahasiswa/i baru itu pun dimanjakan dengan pelayanan gerai-gerai informasi miliki Pemkot Brisbane, pemerintah negara bagian Queensland, maupun wakil sektor swasta yang terkait dengan sektor pelayanan publik, seperti transportasi, pariwisata, kependidikan, maupun klub mahasiswa.
Para mahasiswa baru itu umumnya kuliah di tiga perguruan tinggi utama yang ada di sekitar kota Brisbane, yakni Universitas Queensland (UQ), Universitas Teknologi Queensland (QUT), dan Universitas Griffith (GU).
Di antara mereka yang hadir itu adalah belasan orang mahasiswa baru asal Indonesia serta Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo yang datang bersama seorang stafnya atas undangan panitia acara.
Suasana riuh mewarnai ruangan dalam gedung berasitektur Eropa abad pertengahan itu sejak acara dimulai sekitar pukul 10.00 dan berakhir sekitar pukul 16.00 waktu setempat.
Konjen Sudaryomo Hartosudarmo sempat berfoto bersama dengan sekitar tujuh mahasiswa Indonesia asal UQ dan GU.
Ia meminta para mahasiswa Indonesia agar serius dalam menuntut ilmu di Australia namun tetap berupaya menyempatkan diri mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan Indonesia.
Di antara para mahasiswa baru Indonesia itu adalah Sukri Tanatoa, Ahadi K, Taufik, Ridwan, dan Samuel F.Panggabean, MSi (unit kesehatan Mabes TNI AL Jakarta).
Mereka itu merupakan bagian dari 16 orang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa pemerintah Australia untuk mengikuti program magister bidang kesehatan masyarakat dan kepemimpinan selama setahun di Universitas Griffith. Program studi yang sama juga diikuti para penerima beasiswa yang sama dari China dan Vietnam.
Dalam acara penyambutan mahasiswa internasional itu, Pemda Kota Brisbane mendekatkan para mahasiswa itu dengan pusat-pusat informasi tentang transportasi kota, kegiatan sosial-budaya, kesejahteraan masyarakat, olahraga dan rekreasi.
Para mahasiswa baru itu juga diberi kesempatan mengenal secara langsung unit-unit keamanan sipil dan penanggulangan bencana alam di lingkungan pemerintah kota (Pemkot) Brisbane dan negara bagian Queensland, serta kantor perwakilan negara mereka.
Pengenalan unit-unit pelayanan masyarakat itu dilakukan melalui gerai informasi dari kepolisian, "State Emergency Service" (Layanan Darurat Negara Bagian), dan "Emergency Management Australia" (Manajemen Darurat Australia).
Kehadiran mahasiswa asing di Australia memberikan sumbangan besar bagi perekonomian negara itu. Bahkan sektor pendidikan Australia sudah menjadi bisnis jasa terbesar yang mampu menggeser posisi pariwisata sebagai penghasil devisa.
Seperti dilaporkan Harian "The Australian", pada 2007, sektor pendidikan menghasilkan pendapatan sebesar 12,5 miliar dolar Australia atau naik 21% dari pendapatan tahun sebelumnya.
Kini, terdapat lebih dari 450 ribu orang mahasiswa asing yang belajar di berbagai perguruan tinggi di negara berpenduduk 21 juta jiwa itu. (*/bun)