"Kita masih ingat dua tahun lalu kasus busung lapar yang terjadi di Kota Mataram cukup menggemparkan hingga ke tingkat nasional, namun kini hampir tidak ada lagi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. IGK Lania di Mataram, Minggu.
Gizi buruk turun drastis karena kegigihan petugas baik dari tenaga kesehatan maupun kader-kader Posyandu untuk mengantisipasi kasus itu, petugas kesehatan datang ke Posyandu melakukan penimbangan bayi dua kali seminggu.
Jika ada bayi dinilai kurang gizi, maka diberikan makanan tambahan pengganti air susu ibu, sehingga bayi tersebut cepat pulih, namun demikian masih tetap ada satu atau dua anak yang dirawat di RSUD Mataram karena kasus gizi buruk.
Ketika harga kedelai naik menjadi Rp8.000 kilogram, maka sekitar 600 KK warga Kekalik selaku pembuat tahu dan tempe terancam dilaporkan busung lapar, namun hal itu tidak sampai terjadi.
"Walikota Mataram, H. Moh. Ruslan cukup tanggap dan langsung memberikan bantuan subsidi kedelai sebesar Rp20 juta untuk pembuat tahu dan tempe di Kekalik," katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Baiq Magdalena mengatakan, kasus gizi buruk di daerah itu berhasil ditekan dari 3.000 kasus lebih pada tahun 2006, kini tinggal sekitar 250 kasus tahun 2007.
"Gizi buruk yang mencapai 3.000 kasus lebih itu dalam beberapa bulan tahun 2007 tersisa sekitar 250 kasus, berkurangnya kasus gizi buruk tersebut setelah dilakukan berbagai upaya penanganan," ujarnya.
Dia mengatakan, yang murni merupakan kasus busung lapar atau gizi buruk sebenarnya relatif kecil, yang lebih banyak muncul adalah kasus gizi bermasalah karena adanya penyakit penyerta.
"Persoalan gizi buruk sebenarnya lebih banyak disebabkan penyakit penyerta seperti tujuh orang yang meninggal dunia di RSU Mataram disebabkan tuberculose dan pneumonia berat," katanya.
Penyakit penyerta tersebut menyebabkan anak tidak mau makan yang akhirnya menderita gizi buruk dan bisa saja sebaliknya karena gizi buruk menimbulkan penyakit lain.
Karena itu, dia minta, jangan hanya mengekspose gizi buruk karena ada penyakit penyerta yang menyebabkan balita menderita gizi buruk.
"Untuk mengatasi hal tersebut, maka penyakitnya harus disembuhkan terlebih dahulu baru bisa ditangani perbaikan gizi, jika tidak maka masalah gizi tersebut sulit diatasi," katanya. (*/bun)