"Jangan sampai terjadi seakan-akan timbul bahwa masalah hutan ditangani oleh orang kehutanan, hal ini mengingat begitu hutannya rusak semuanya akan mendapatkan akibatnya," kata Kaban, pada Haul ke-16 K.H. Musthofa Khoir di Ponpes Al Musthofa, Desa Pandes, Cepiring, Kabupaten Kendal, Minggu.
Oleh karena itu, kata Menhut, semua komponen masyarakat perlu bersama-sama menyelamatkan lingkungan serta kehidupan masyarakat ini, dan yang menuntun adalah para kiai sebagai pewaris, dan penerus para nabi untuk menuntun umat ini.
Dalam membangun masyarakat jangan sampai ada pemisahan antara umara dengan ulama, hal ini harus berjalan bersama-sama.
"Inilah yang harus kita bangun dalam mencapai cita-cita kemerdekaan negara kita ini. Kalau umara lepas dengan ulama para pemimpin mengambil keputusannya tidak sejalan dengan ulama bisa jadi akan timbul berbagai macam persepsi yang keliru," katanya.
Ia mengatakan, tidak ada negara muslim di dunia ini yang sukses membangun budaya keluarga berencana (KB), kecuali di Indonesia.
Keberhasilan itu karena ketika menjelaskan program KB para ulama ikut memberikan pengarahan pada masyarakat, sehingga klop antara tujuan pengambilan keputusan tujuan nasional dengan apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
"Saya pun berkeinginan dan berharap di sektor kehutanan ini para ulama dan para kiai untuk ikut juga menyampaikan program-program tentang pentingnya kita melakukan kegiatan di sektor kehutana," katanya.
Manusia menanam kemudian tumbuh pepohonan, dalam proses tumbuh itu juga ada proses sinar matahari sampai di permukaan daun keluar oksigen. Kalau tidak ada pepohonan keadaan dapat menjadi gersang, panas, dan menyesakkan dada, katanya.
"Bumi Allah ini harus kita sehatkan kembali dengan menanam pohon. Sekarang ini orang sering saling salah menyalahkan adanya tanah longsor, banjir, dan timbul bencana di mana-mana. Musibah dan bencana ini tak akan berhenti kalau masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa ini tidak merubah cara kehidupan," katanya.
Di Pulau Jawa pohon-pohon hutan ini sangat kurang. Seharusnya sepanjang Pulau Jawa ini tutupan hutannya minimal 30%, tetapi sekarang tinggal 19%.
Jadi kalau hujan turun 1 juta liter dalam satu detik maka 800 ribu liter langsung turun sampai permukaan bumi karena tidak ada yang menampung lagi.
"Satu-satunya jalan kita perlu memperbaiki kembali hutan itu dan harus datang dari diri kita masing-masing yakni masyarakat kalau tergantung dari pemeritah juga tidak akan selesai, semua harus kompak bersama-sama melakukan penanaman pohon untuk penghijauan.
Menurut dia, harus ada kesadaran dari masyarakat kalau menggantungkan dari pemerintah sulit karena kawasan hutan yang rusak mencapai sekitar 60 juta hektare dan target penanaman tiga tahun sejak 2003 hingga 2007 sebanyak 3 juta hektare dengan nilai mencapai satu miliar dolar AS.
"Pemerintah juga harus lurus jangan macam-macam, kalau itu dikatakan kawasan hutan jangan diubah-ubah karena hutan memiliki fungsi lingkungan dan ekologi untuk menangkap air hujan, terserap, dan masuk ke pori-pori bumi kemudian menjadi air tanah serta timbulnya mata air," katanya.
Ia mengatakan, tempat yang perlu dihijaukan terutama kawasan berbukit-bukit, berlereng-lereng, dan bergunung-gunung atau semua lahan yang memang mungkin dapat tamani, hal itu sedikit banyak pasti ada manfaatnya.
"Pak kiai tak usah khawatir kalau semua jamaah, para santri, dan masyarakat menghayati serta bersama menanam pohon diharapkan dapat menyelamatkan lingkungan, kehidupan, meningkatkan kesejahteraan yang lebih baik dan sekaligus merupakan bersedekah bahwa bersedekah itu dapat mencegah bencana," katanya.
Usai memberikan sambutan menteri meletakkan batu pertama pembangunan gedung aula Ponpes Al Musthofa, Desa Pandes, Cepiring, Kabupaten Kendal. (*/bun)