Himbauan tersebut karena adanya temuan makanan dan susu bayi mengandung bakteri hasil penelitian Intitut Pertanian Bogor (IPB), kata Kepala Bidang Serifikasi dan Layanan Informasi Konsumen, BPOM Sulut, Sarlota Patabong, Senin di Manado.
Beberapa jenis makanan dan susu bayi yang diduga telah mengandung bakteri jenis enterobacter sakazakii, masih banyak dipasaran umum.
Memang secara resmi belum mendapat petunjuk dari pemerintah pusat untuk menarik berbagai jenis makanan dan susu bayi, namun perlu diwaspadai, jelas Sarlota, tak merinci jenis-jenis produk yang mengandung bakteri itu.
BPOM untuk sementara masih dalam tahap mengawasi, serta mengingatkan kepada pemilik toko atau swalayan penjual susu.
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulut, Aldy Lumingkewas mengatakan, temuan IPB perlu ditindaklanjuti hingga ke daerah-daerah, karena dampak kesehatan sangat berbahaya.
Pemerintah sebaiknya tidak lepas tangan dengan temuan itu, harus ada respon positif untuk melakukan antisipasi dengan melarang produk susu mengandung bakteri.
Apalagi temuan sebanyak 22,73 persen (22 sampel) susu formula dan 40 persen (15 sampel), yang terekspos ke publik, terbilang sangat banyak. (*/rsd)
menteri kesehatan tidak percaya pada peneliti IPB. menteri kesehtan tidak percaya karena belum melihat sendiri korban yang berjatuhan. apakah harus ada korban dulu baru percaya kali beberapa susu formula ada bakteri yang berbahaya itu. berapa yang harus jadi korban dulu. apakah ini kinerja seorang menkes, yang akan menindaklanjuti masalah yang menyangkut banyak nyawa bayi. sungguh..sungguh tragis bayi2 di negara indonesia.
Untuk itu pemerintah tolong di perjelas sus merek apa yg mengandung bateri. Soalnya aku sebagai ibu sangat kwatir dengan adanya penelitian tsb. Soalnya anaku memakai susu formula. Tolong dong di percepat infromasinya.