Aksi ini menjadi lambang ketidakseriusan pemerintah dalam penanganan semburan lumpur Lapindo. Aksi ini mendapat pengawalan dari petugas dan berlangsung aman.
Massa yang juga menjadi korban luapan lumpur ini beraksi di bawah overpass Desa Besuki, dekat tanggul penahan lumpur di titik 41.
Dengan hanya menggunakan celana dalam, mereka menceburkan diri dalam kubangan lumpur yang ada di dekat tanggul, sembari mengibarkan bendera merah putih.
Sebanyak tujuh orang memerankan diri sebagai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, anggota DPR RI, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dan para menteri serta warga korban lumpur.
Dalam teatrikal itu, para menteri memberi laporan palsu kepada Presiden Yudhoyono yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sedangkan, warga lain merengek memohon pemerintah merevisi isi Perpres 14/2007 dan memasukkan Desa Besuki Kecamatan Jabon masuk dalam peta areal terdampak.
"Teatrikal ini adalah lambang ketidakseriusan pemerintah menangani luapan lumpur Lapindo, termasuk dampaknya yang telah merugikan masyarakat banyak," kata salah satu peserta aksi.
Desa Besuki sudah tiga kali terendam lumpur yaitu pertama kali akibat percobaan alat spillway, kedua jebolnya tanggul yang tidak mampu menahan debit air di pond besuki dan ketiga jebolnya tanggul di titik 40.
Usai melakukan aksi teatrikal, massa membubarkan diri. (*/rsd)