"Untuk mencapai sekolah di desa terdekat yang jaraknya 3,5 Km harus ditempuh dalam waktu 1,5 jam akibat kondisi jalan yang memprihatinkan," kata Direktur Eksekutif Yayasan Kaba Hill, D Andalas, yang selama ini fokus pada kegiatan pendidikan alternatif di Kabupaten Rejang Lebong, Selasa.
Sarana sekolah bagi anak-anak Dusun Talang Markisa yang terdekat berada di Desa Sumber Urip, dan bisa hujan turun siswa bisa batal sekolah, karena jalan licin karena dusun itu berada tepat di bawah lereng Bukit Kaba.
"Dengan topografi bertebing, jika hujan kondisi jalan sangat licin dan sangat membahayakan keselamatan anak-anak," katanya.
Dusun Talang Markisa yang dihuni 40 lebih kepala keluarga menjadi perhatian khusus sebab akses masyarakat terhadap kesehatan, pendidikan dan air bersih sangat minim di dusun tersebut, ujar Andalas.
Kondisi tersebut telah mengakibatkan beberapa anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, salah satunya dialami Yanto (10) murid kelas IV, yang harus putus sekolah akibat keterpurukan ekonomi keluarga karena ayahnya hanya sebagai petani palawija yang merupakan mata pencaharian warga dusun tersebut.
"Yanto anak yang rajin dan memiliki prestasi yang baik, tapi karena orang tuanya tidak bisa lagi membiayai pendidikannya dan jarak sekolah yang cukup jauh membuat dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah," katanya.
Fatmawati, Ketua Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Bukit Kaba yang juga bermukim di Dusun Talang Markisa mengatakan, akses warga ke Desa Sumber Urip terkendala dengan parahnya kondisi jalan yang harus ditempuh.
Jalanan berlubang dan hancur, sementara topografinya bertebing membuat warga hampir putus asa sebab hingga saat ini pemerintah daerah setempat tidak pernah melakukan perbaikan jalan.
"Kalau mobil harus pakai gardan dua baru bisa lewat, itu pun jarang yang mau ke sini. Untuk mengangkut hasil panen seperti sayur mayur, cabe dan lainnya, warga harus mengeluarkan ongkos dua kali lipat, makanya perekonomian penduduk tidak pernah membaik," jelasnya.
Angkutan jenis roda dua, baik tukang ojek maupun beberapa warga yang mampu, sering kandas di jalan buruk tersebut sehingga sebagian besar anak-anak memilih berjalan kaki menuju sekolahnya.
"Kita minta pemerintah memperbaiki jalan yang rusak sehingga sarana transportasi lancar karena dulu sudah sempat beberapa angkutan pedesaan sampai ke dusun ini tapi sejak jalan rusak parah, tidak ada lagi angkutan yang mau," tambahnya. (*/lin)