Dengan demikian, kata Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM ) Yogyakarta, Dr Sunarto, Rabu, di seluruh wilayah negeri ini setiap 16 bulan terjadi satu kali gempa yang merusak, khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Maluku.
Sementara selama 2007 tercatat setiap bulan di wilayah Indonesia terjadi gempa, kecuali pada Oktober.
Menurut dia, gempa tektonik di Indonesia disebabkan negeri ini terletak di tiga lempeng tektonik. Pulau Jawa, Selat Sunda, Sumatera, dan laut Banda termasuk di lempeng tektonik Hindia-Australia.
Sulawesi termasuk lempeng Sirkum Pasifik, dan daerah utara Sumatera serta Kalimantan termasuk lempeng Eurasia, katanya.
Ia mengatakan untuk antisipasi gempa tersebut, PSBA UGM membuka situs Sistem Informasi Penanggulangan Bencana Indonesia (SIPBI . Melalui situs itu, pihaknya menyebarluaskan informasi tentang proses bencana, tahap tanggap darurat, rekonstruksi, rehabilitasi dan mitigasi.
"Kami menindaklanjuti data geologi tentang daerah sesar, patahan dan lempeng di berbagai daerah di Indonesia. Dari data itu, kami menyosialisasikan kemungkinan terjadi bencana pada masyarakat," katanya.
Menurut dia, dengan situs tersebut masyarakat akan mengetahui kemungkinan terjadi bencana gempa maupun tsunami. Gempa memang tidak bisa dideteksi atau diramal, tapi tsunami dapat didekteksi.
"Begitu terjadi gempa akan terjadi perjalanan air dari pusat gempa ke pantai. Perjalanan air itu dapat diketahui dengan dihitung temponya, sehingga dapat diantisipasi dengan sistem peringatan dini," katanya. (*/rsd)