Komitmen senada juga diperoleh Wapres dari perusahaan raksasa Jepang lainnya, Panasonic, saat Wapres berkunjung ke kantor pusat Matsushita Electric, pemilik merk Panasonic, di Osaka pada Rabu paginya.
Demikian pernyataan Wapres Jusuf Kalla di Nagoya, usai bertemu mengadakan pertemuan tertutup dengan manajemen Toyota. Dalam pertemuan yang berlangsung selama satu jam itu akhirnya Presiden Toyota Motors Corp. Katsuaki Watanabe menyetujui keinginan Indonesia, dengan satu syarat, perbaikan infrastruktur jalan.
"Kita bersyukur kalau Toyota akhirnya berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai basis ekspornya. Soal persyaratannya, memang kita sudah sampaikan juga kalau kita sedang mempercepat kegiatan pembangunan jalan baru," ujar Wapres yang dalam pertemuan ditemani Menteri Perindustrian Fahmi Idris, pengusaha Sofjan Wanandi dan juga Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar.
Sementara itu, dalam pertemuannya dengan manajemen Panasonic di Osaka pada Rabu paginya, Wapres mengatakan, pimpinan Matsushita, perusahaan pemilik Panasonic, pada umumnya setuju untuk membantu peningkatan kapasitas industri elektronik Indonesia.
Dalam pertemuan dengan Presiden Matsushita Electric, Fumio Ohtsubo itu, Wapres ditemani oleh Preskom PT Panasonic Gobel Indonesia Rahmat Gobel, namun Gobel tidak terlihat lagi untuk pertemuan berikutnya dengan Toyota.
Selama berkunjung ke Osaka dan Nagoya, Wapres dan rombongan menyempatkan diri meninjau fasilitas pabrik eletronik Panasonic dan pabrik perakitan sedan Toyota. Selama di pabrik Panasonic, Wapres menerima penjelasan mengenai teknologi terkini dari televisi layar datar berteknologi plasma.
Sedangkan di Nagoya, wapres menyaksikan proses perakitan sedan-sedan berkelas Toyota, seperti Camry, Corolla, dan Prius (sedan dengan mesin hybrid).
Fokus Manufaktur
Sejak awal berkunjung ke Jepang, tekad Wapres adalah ingin meraih kerja sama strategis yang berjangka panjang guna meningkatkan industri otomotif nasional. Sukses meraih kerja sama dengan Toyota ini, diakui Jusuf Kalla juga menuntut kesiapan Indonesia sendiri, sehingga Indonesia betul-betul memiliki daya saing yang kuat dalam sektor industri.
Menurut pengusaha Jusuf Wanandi, kesepakatan yang tercapai dengan dua perusahaan manufaktur terbesar Jepang itu memang sejak awal berfokus di manufaktur, mengingat kepentingan yang strategis jangka panjang nasional.
"Dengan kesediaan Toyota dan Panasonic, maka perusahaan tersebut diharapkan bisa menjadi pendorong bagi kebangkitan kembali investasi Jepang ke Indonesia," kata Sofjan yang terlihat menjadi penasehat Wapres itu.
Sofjan berpendapat bahwa komitmen dari kedua perusahaan itu nantinya juga dapat membawa perusahaan-perusahaan Jepang berinvestasi di Indonesia, khususnya di sektor manufaktur. Sampai sekarang saja pebisnis Jepang masih banyak yang bersikap wait and see.
Ekspor Indonesia tahun 2007, tercatat sekitar US$600-800 juta . Sementara ekspor mesin Kijang, sudah berlangsung ke Thailand dan Filipina serta lainnya. Kalau basis ekspor berada di Indonesia, maka mereka tidak akan memindahkan lagi basisnya ke tempat lain," tambah Sofyan.
Pihak Jepang juga menyampaikan kepada Indonesia agar membuka kerja sama ekonomi sekelas EPA (Economic Partnership Agreement) dengan India, guna memperkuat ekspor ke India, sehingga menjadikan industri otomotif memiliki kemampuan ekspor yang meraksasa.
Namun Sofjan mengakui kalau Indonesia sendiri harus melakukan pembenahan diri yang serius, terutama soal infrastruktur, seperti yang dipersyaratkan Toyota tadi.
Pimpinan Toyota memang terang-terangan meminta agar pembuatan jalan baru dari kawasan industri di Cikampek yang bisa menghubungkan secara cepat akses menuju pelabuhan Tanjung Priok bisa dipercepat. Hal itu dilakukan guna mengatasi kemacetan yang terjadi di jalur transportasi yang sekarang. (*/rsd)