Sementara bagi, Habiburrahman El Shirazy, penulis novel AYAT-AYAT CINTA, ini merupakan kali kedua bisa hadir di MD, setelah novel pertama DI ATAS SAJADAH CINTA diangkat ke layar kaca.
"Saat novel AYAT-AYAT CINTA booming di tahun 2005, permintaan untuk difilmkan sangat deras. Tapi dari sekian banyak PH yang melamar, MD-lah yang paling gentle. MD menerima beberapa syarat yang saya ajukan, salah satunya settingnya harus di Mesir," ungkap Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman.
Memberikan suguhan film beredukasi adalah satu pemikiran novelis jebolan Al Azhar University, Cairo ini. "Saya juga menyarankan sebelum diputar di bioskop ada ulama yang menyaksikan dan itu disanggupi MD. Dan saya percaya saat Manoj, mengatakan akan merawat AYAT-AYAT CINTA sebagaimana dia merawat anaknya sendiri," tuturnya. Salah satu ulama yang sempat dihadirkan adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Sebagai sebuah karya novel dan karya film, Kang Abik tidak dapat memastikan satu dan lainnya sama persis.
"Imajinasi setiap orang beda saat membaca novel, kalau difilmkan sudah dibentuk visualisasinya. Jadi otomatis pasti ada yang beda," tanggapnya.
Film ini sendiri disutradarai oleh Hanung Bramantyo, salah satu sutradara papan atas Indonesia. Dan telah menghasilkan beragam karya, antara lain GET MARRIED, JOMBLO, BROWNIES, LENTERA MERAH, serta banyak lagi. Dengan bintang utama Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, serta kehadiran Surya Saputra menjadi nilai tambah bagi film ini. (kpl/ant/tri)
Lihat Profil: Hanung Bramantyo, Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Surya Saputra