Jangan buat masyarakat panik dengan penemuan susu mengandung bakteri itu, sehingga perlu ada penjelasan resmi mana yang perlu dihindari, kata Ketua YLKI Sulut, Aldy Lumingkewas, Kamis di Manado.
Hingga saat ini, sejumlah warga, terutama Ibu Rumah Tangga (IRT) di Sulut, mengaku resah terhadap temuan Institut Pertanian Bogor (IPB) bahwa 22,73% (22 sampel) susu formula dan 40% (15 sampel), tidak layak konsumsi karena ada bakteri jenis Enterobacteri sakazakii.
Menurutnya, masyarakat mulai enggan untuk membeli susu secara bebas dipasaran, karena pemerintah sendiri belum mempublikasikan, jenis-jenis apa yang harus dihindari.
Kalau ada beda pendapat hasil penelitian antara IPB dengan pemerintah, seharusnya tidak mengorbankan masyarakat yang banyak bergantung dari makanan dan susu tersebut, tambah Lumingkewas.
Anggota DPRD Sulut, Benny Rhamdani mengatakan, pemerintah pusat hingga di daerah, sebaiknya mulai melakukan penertiban susu dan makanan bayi mengandung bakteri, karena bisa berdampak besar bagi kesehatan manusia.
Pemerintah daerah segera merespon temuan IPB tersebut dengan mencari tahu jenis-jenis dan merk makanan serta susu mengandung bakteri, tidak harus menunggu petunjuk pemerintah pusat.
Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Propinsi Sulut, Henny Kondoy mengatakan, akan melakukan razia susu dan makanan bayi di sejumlah toko, swalayan hingga pasar tradisional, namun masih terfokus pada tanggal kadaluwarsa.
Karena belum ada petunjuk resmi jenis makanan dan susu mengandung bakteri dari pemerintah pusat, pihaknya sementara ini hanya merazia jenis tersebut yang mengandung kadaluwarsa dulu, katanya. (*/cax)