
"Sebenarnya bukan horornya yang salah tapi stigma yang mengatakan kalau ingin membuat film laris bikin horor atau ABG. Cilakanya, semua mengamini pemahaman seperti itu. Saya ingin mengubah itu," katanya di MD (27/2).
Hanung juga tidak mengelak, film romantis dan cinta akan tetap menjadi komoditas. Di Amerika, sebagai produsen film terbesar di dunia pun begitu. "Tetapi kenapa film cinta banyak yang ABG. Padahal cinta bukan milik ABG saja. Itu yang tidak pernah kita kupas," ujarnya.
Walau pernah membuat film horor, LEGENDA KUNTILANAK, Hanung tidak bakal buat film sejenis itu lagi. Baginya film horror yang pernah dibuatnya hanya untuk cari duit semata. "Buat apa," tanyanya. "Kalaupun akhirnya saya akan bikin film lagi, saya akan membikin film horror yang mencemooh film horor itu sendiri," tandasnya. "Saya ingin membuat film cinta tanpa mengumbar seks tapi laku," imbuhnya.
Mengukur sukses film atau tidak, menurut sutradara asal Jogja ini masih sangat spekulatif. Buat dia sukses film bisa diukur dari penghargaan di sebuah festival. "Tapi itu masih spekulatif juga. Kita juga bisa menggunakan jumlah penonton sebagai tolak ukur sukses film," pungkasnya. (kpl/ant/tri)
Lihat Profil: Hanung Bramantyo