Keterangan yang dihimpun dari warga setempat hingga Jumat menyebutkan, keberatan pindah karena Pemkot Semarang hanya menyediakan lahan di daerah Mijen, sedangkan biaya pembangunan rumah harus ditanggung warga.
Karena tawaran pada tahun 2004 itu memberatkan, akhirnya seluruh warga Dusun Deliksari sepakat tetap bertahan di lokasi, meskipun sewaktu-waktu permukiman ini bisa dilanda tanah longsor, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini.
"Pada saat diguyur hujan lebat setiap hari seperti sekarang, seolah-olah warga menantang maut," kata Sumarjo, warga Dusun Deliksari kepada mahasiswa Undip yang mengunjungi dusun ini.
Menurut dia, di balik ancaman bencana yang menyulut kecemasan, warga justru mendapat hikmah, sebab hal itu menjadikan warga Deliksari lebih rukun dan kompak dalam menghadapi ancaman bersama berupa longsor yang sewaktu-waktu terjadi.
"Saat ini warga mulai memikirkan tempat wudu dalam masjid dusun yang Senin (25/2) terkena longsoran tanah," kata Sumarjo.
Warga menyadari bahwa lahan permukiman Dusun Deliksari memang rawan longsor, tapi kerusakan tempat wudu masjid itu tidak diperkirakan sebelumnya karena titik lokasi ini termasuk aman
"Di titik-titik yang rawan, pada longsor Senin lalu justru aman, sedangkan masjid termasuk yang tidak disangka akan terkena longsoran kecil," katanya.
Dusun ini pernah dilanda longsor parah pada tahun 2003, yang menyebabkan bangunan roboh, dan bangunan bergeser dan miring. Meski demikian, bencana ini tidak menyebabkan warga mau direlokasi ke tempat aman akibat harus menanggung biaya pembangunan rumah.
"Kelurahan sudah mengetahui hal itu, namun belum ada tindakan konkret, kecuali memberi penyuluhan," kata Sumarjo yang juga Ketua RW VI Dusun Deliksari.
Tahun 2004, katanya, warga setempat pernah berdialog dengan Wali Kota Semarang yang datang ke dusun ini dan meminta warga mau direlokasi ke Mijen namun tawaran ini ditolak. (*/cax)