Sejumlah 66 warga Palestina tewas dalam empat hari serangan udara dan darat Israel di wilayah pantai yang dikuasai Hamas yang berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa itu. Daerah itu terletak antara Israel, Mesir dan Laut Tengah.
Negara Yahudi itu mengatakan pihaknya menanggapi serangan roket lintas perbatasan yang menewaskan seorang pria Israel di kota perbatasan Sderot, Rabu dan mencederai beberapa orang lainnya di kota selatan Ashkelon.
AS mendesak Israel "memikirkan konsekuensi-konsekuensi" dari setiap aksi menjelang kunjungan Menlu AS Condoleezza Rice pekan depan.
Pertumpahan darah lebih banyak dapat merusak harapan-harapan Washington bagi tercapai satu perjanjian perdamaian sebelum Presiden AS George W.Bush mengakhiri masa jabatannya Januari 2009.
Dari 31 orang yang tewas Sabtu itu, 16 adalah warga sipil dan sisanya para pejuang , kata staf rumah sakit dan Hamas, yang menguasai Gaza Juni tahun lalu setelah mengusir pasukan yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas.
Salah seorang dari warga-warga sipil yang tewas itu adalah seorang ibu yang sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk anaknya ketika ia kena tembak, kata para keluarga dan pekerja medis. Seorang gadis dan abangnya juga termasuk di antara mereka yang tewas.
Para saksi mata mengatakan pertempuran itu meletus setelah serdadu-serdadu Israel yang didukung helikopter tempur memasuki Gaza utara dan dihadapi para pejuang Palestina.
Para pejabat Palestina mengatakan pasukan Israel bergerak maju ke arah kota-kota Beith Hanoun dan Jabalaya, penyerbuan paling jauh kedalam dalam beberapa bulan belakangan ini.
Militer Israel mengkonfirmasikan pasukannya sedang melakukan operasi di daerah itu dan lima tentara luka ringan.
Seorang jurubicara tentara Israel mengatakan sekitar 20 roket ditembakkan ke Israel , Sabtu termasuk tiga rudal Grad yang didesain Sovyet , yang lebih kuat dan akurat ketimbang roket-roket Qassam yang dibuat para pejuang.
Deputi Menteri Pertahanan Israel Matan Vilnai, dalam wawancara dengan Radio Israel, Jumat memperingatkan para warga Gaza mereka akan mengalami risiko berbahaya jika serangan roket tidak diakhiri.
Hazem Abu Shanab , seorang anggota senior faksi Fatah di Gaza, menyebut serangan Israel itu "satu pembunuhan riil terhadap kami semua".
Para pejabat Hamas mengatakan masyarakat "internasional bungkam" atas "pembantaian" itu termasuk dari negara-negara Arab.
Abbas, yang tetap berseteru dengan Hamas, menyebut ancaman-ancaman Israel dan persiapan untuk menyerbu Gaza "berbahaya". Jumlah korban yang banyak dapat meningkatkan tekanan pada Abbas untuk menangguhkan perundingan-perundingan perdamaian dengan Israel, yang menarik pasukannya dan para pemukim dari Gaza tahun 2005 setelah 38 tahun mendudukinya.
Kendatipun serangan roket telah lama mengganggu kehidupan di kota-kota Israel selatan, tewasnya seorang warga Israel, Rabu itu - kematian pertama semacam itu sejak Mei-- telah menekan PM Israel Ehud Olmert untuk meningkatkan aksi militer.
Hamas mengatakan serangan-serangan roket itu adalah untuk membalas serangan-serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat. (*/boo)