< >

Ada Software Bisa 'Membaca' Gambar?

Senin, 03 Maret 2008 23:00
Kapanlagi.com - Selama ini software atau perangkat lunak komputer tidak mampu membaca teks yang ada di dalam gambar. Karena yang ada dalam file gambar tersebut hanyalah sekumpulan warna dan koordinatnya. Namun nampaknya anggapan itu tidak lagi berlaku.

Diperkirakan telah ada software yang mampu mengenali huruf dan angka yang terdapat pada sebuah gambar walaupun itu belum dikonfirmasi sepenuhnya oleh para pakar.

Acara melihat sederet huruf dan angka dalam bentuk yang aneh dan sukar dibaca kemudian mengetikkannya lagi pada kotak yang disediakan mungkin sudah jadi ritual biasa bagi yang suka daftar email gratis.

Sistem ini sebenarnya adalah langkah pengamanan untuk membedakan manusia dari software. Para penyedia layanan email gratis mengharuskan pendaftar melewati tahapan ini dengan asumsi bahwa hanya manusia yang bisa membaca rangkaian huruf dan angka pada gambar yang mereka sediakan.

Hotmail, Yahoo, dan Gmail sebagai penyedia layanan email gratis terbesar, tidak menginginkan ada pendaftar yang menggunakan software untuk kemudian menggunakan account mereka untuk mengirim spam mail atau email berisi iklan yang dikirimkan ke banyak alamat. Sistem ini disebut CAPTCHA atau Completely Automated Public Turing test to tell Computers and Humans Apart.

Sejauh ini sistem ini dianggap aman sampai Stephan Chenette, manajer Websense Security Labs mengatakan bahwa sistem CAPTCHA Gmail telah dibobol. Bahkan di beberapa situs, software untuk membobol CAPTCHA ini sudah bisa didownload dengan gratis.

Diperkirakan salah satu cara yang dipergunakan adalah, saat gambar ditampilkan, software tersebut akan mengirimkan tampilan kepada para pekerja yang dibayar untuk memasukkan kode dan kemudian mengirimkannya kembali. Dengan begitu proses akan berlanjut ke tahap berikutnya.

Namun, menurut Stephan Chenette, serangan terhadap Gmail diperkirakan tidak menggunakan manusia sebagai pembaca kode. Sebuah program yang dibuat untuk membaca CAPTCHA telah berhasil menyerang Gmail.

Saat dicoba untuk menelusuri dari alamat IP sang penyerang, Stephan dibawa ke sebuah situs berlokasi di Amerika Serikat namun menggunakan bahasa Rusia.

"Bila dibuat lebih sulit, nanti manusia pun akan kesulitan untuk membacanya", ungkap Stephan. "Jadi mungkin lebih baik bila sistem keamanannya dibuat rangkap" lanjutnya.

Konon versi terbaru CAPTCHA akan menggunakan suara sebagai ganti dari gambar dengan harapan akan sedikit menghambat para hacker walaupun mungkin tidak untuk waktu yang lama.  (tec/roc)