Namun baru-baru ini sekelompok ilmuwan dari universitas negeri Montana dan Louisiana yang terdiri dari David Sands, Christine Foreman, Brent Christner, dan Cindy Morris mengemukakan satu teori baru. Mereka menyebut bakteri adalah penyebab kekacauan cuaca tersebut.
Selama ini telah diketahui bahwa hujan maupun salju terbentuk saat ada debu atau jelaga pada ketinggian atmosfir tertentu kemudian membeku dan menjadi inti es. Kandungan air pada atmosfir kemudian menempel pada inti es ini dan terbentuklah es pada awan. Es pada awan inilah yang kemudian jatuh menjadi hujan atau salju.
Dari penelitian selama 25 tahun mereka kemudian menyimpulkan bahwa bakteri pun dapat berfungsi sebagai inti es. Bedanya, inti es biologis ini dapat terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan inti es lain. Sekitar 69% inti es yang terbentuk di awan ternyata adalah inti es biologis.
Bakteri ini kemudian ikut jatuh dalam hujan atau salju dan kemudian bersirkulasi lagi. Bakteri yang ditemukan dalam air hujan dan salju dari berbagai tempat yang diteliti para ilmuwan ini sebagian besar adalah bakteri tanaman dan beberapa dapat menimbulkan penyakit.
Campur tangan manusia pada ekologi pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jumlah dan penyebaran bakteri. Dengan perubahan komposisi bakteri di atmosfir maka perubahan musim pun akan terpengaruh. (tec/roc)