"Merupakan tindakan mengejutkan tetapi sekaligus patut dipuji," kata Yusron Ihza Mahendra dari Fraksi Partai Bulan Bintang di Jakarta, Rabu, tentang resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1803 yang memutuskan memberikan tambahan sanksi terhadap Iran atas proyek pengayaan uranium.
Indonesia menjadi satu-satunya dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB yang bersikap abstain dalam pengambilan keputusan di Markas Besar PBB New York Senin waktu setempat sedangkan selebihnya setuju PBB mengesahkan resolusi itu.
Yusron merasa terkejut sekaligus memuji sikap pemerintah itu karena selama ini Indonesia cenderung mengikuti langkah AS dalam pengambilan pengambilan keputusan di Dewan Keamanan sebagaimana pada saat "voting" kedua tahun lalu.
Akibat dukungan Indonesia atas resolusi sanksi lebih berat kepada Iran terkait pengembangan energi nuklirnya ketika itu, banyak protes di Tanah Air bahkan berujung pada interpelasi nuklir oleh DPR, katanya.
"Namun saat ini agak berbeda karena Iran telah bersifat lebih kooperatif terhadap kehendak PBB dalam pengembangan nuklir," katanya.
Yusron mempertanyakan apa sebenarnya alasan sebagian besar anggota Dewan Keamanan mengeluarkan resolusi yang memberikan tambahan sanksi atas Iran.
Yusron mengutip sejumlah sumber yang menyebutkan keputusan itu diambil karena faktor ketidakpercayaan yang berlebihan atau keyakinan yang lemah (lack of confident) terhadap Iran.
Sanksi tersebut, katanya, lebih banyak menimbulkan pertanyaan ketimbang jawaban.
"Sanksi yang bersifat mengandung lebih banyak pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu alasan bagi Indonesia untuk bersikap abstain," katanya. (*/cax)