< >

Pembatalan Tinta Dorong Rakyat Malaysia Dukung Oposisi

Kamis, 06 Maret 2008 21:15
Kapanlagi.com - Pembatalan penggunaan tinta penanda jari oleh Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) selaku penyelenggara Pemilu di Malaysia mendorong rakyat negeri jiran itu mendukung partai oposisi.

"Kami yakin akan semakin mendorong rakyat mendukung oposisi karena keputusan SPR telah menodai pemilu yang adil dan bersih," kata Wakil Presiden PAS (Partai Islam Se-Malaysia) Mohammad Sabu, dalam jumpa pers di Kuala Lumpur, Kamis (6/4).

Rakyat, katanya, akan semakin melihat bukti bahwa pemerintah kerajaan Malaysia ingin berbuat curang agar banyak pemilih 'hantu' berkeliaran, katanya.

Hal itu, kata Sabu menambahkan, menunjukkan bahwa Barisan Nasional sebagai koalisi partai penguasa takut kalah.

SPR, Rabu (5/3) membatalkan penggunaan tinta sebagai penanda bagi pemilih yang telah memberikan suara pada Pemilu Malaysia ke-12 pada 8 Maret 2008.

Padahal SPR pada 10 Februari 2008 telah mengedarkan 48 ribu botol tinta ke seluruh pelosok negeri tetapi beberapa hari menjelang pelaksanaan pemilu membatalkan penggunaan tinta tanpa alasan yang masuk akal setelah ada masukan dari Kepala Polisi Negara dan Kepala Kejaksaan Malaysia.

Atas pembatalan tersebut, organisasi resmi pemantau pemilu, Mafrel (Malaysian for Free and Fair Election) menghadapi masalah dengan berbagai pemantau independen yang mundur karena merasa pemilu sudah ternoda.

Dalam menghadapi masalah itu, PAS selaku partai oposisi telah menyiapkan peralatan pendeteksi KTP Malaysia untuk menghindari satu orang bisa memilih berkali-kali.

"Kami menyiapkan pasukan yang akan menahan pemilih berkali-kali melakukan pencoblosan," kata Sekjen PAS Roslan Shahir yang mendampingi Sabu.

Roslan mengemukakan penemuan Mafrel di Kelantan terdapat 195 orang pemilih pos (tentara atau polisi) juga terdaftar sebagai pemilih biasa di beberapa lokasi.

"Nama mereka sama dan tahun kelahiran sama. Ini mencurigakan," katanya.

Contoh lain terjadi di Terengganu, ada 41 orang pemilih pos (tentara dan polisi) juga terdaftar sebagai pemilih biasa di beberapa lokasi.

"Ada nama polisi Ismail bin Jusoh terdaftar di 40 lokasi pemilihan. Ada 40 orang punya nama sama Ismail bin Jusoh dan lahir pada tahun yang sama 1962. Ini sangat mencurigakan," katanya. (kpl/dar)