< >

Kapal yang Singgah di Suriah Dalam Daftar 'Pengawasan' AS

Jum'at, 07 Maret 2008 17:22
Kapanlagi.com - Amerika Serikat,AS, Kamis (Jumat WIB) telah memasukkan nama-nama kapal-kapal yang sebelumnya singgah di Suriah kedalam daftar pengawasan, kata seorang pejabat AS, sebagaimana AS berupaya menambah tekanan kepada pemerintah Damascus atas kecurigaan AS adanya kaitan negara itu dengan terorisme.

Keputusan tersebut yang dapat memberikan tekanan pada sektor perdagangan atau pelayaran yang melalui Suriah merupakan satu kebijakan yang memberatkan Damascus dalam hubungannya yang tidak mulus dengan AS walau sempat sesaat membaik pada November lalu pada saat AS mengajak Suriah dalam pencanangan dimulainya kembali proses perundingan perdamaian Israel-Palestina.

Suriah dimasukkan kedalam satu daftar yang disebut "Daftar Laporan Keamanan Pelabuhan" karena adanya kekhawatiran adanya kaitan antara Suriah dengan oragnisasi teroris internasional," kata Wakil juru bicara Departemen Luar Negri AS, Tom Casey kepada pers.

Kebijakan itu akan memebrikan wewenang kepada petugas Pengawas Perairan untuk memberlakukan sejumlah ketentuan tambahan bagi kapal-kapal yang berlayar ke dan dari Suriah yang tiba di pelabuhan-pelabuhan AS yang seblumnya singgah atau akan berlabuh di pelabuhan pelabuhan Suriah," katanya.

Casey menambahkan ia memahami bahwa kebijakan tersebut akan memberikan dampak bagi setiap kapal yang telah melakukan kunjungan di Suriah dari persinggahannya di lima pelabuhan yang terakhir namun ia mengatakan kepada pers agar meminta kejelasan lebih lanjut dari pihak petugas Pengawas Peraiaran dan Departemen Keamanan Dalam Ngegri (DHS).

Sejauh ini tak ada satupun pihak di DHS yang dapat memberikan komentar sementara kantor humas Pengawas Perairan berjanji akan memberikan keterangan rinci mengenai keputusan tersebut pada hari Jumat (Sabtu WIB).

Perkembangan terakhir itu menandai memburuknya hubungan AS dengan Suriah yang kembali mengalami ketegangan pada akhir Januari saat Casey mengatakan tiba waktunya bagi Suriah untuk mengheentikan semua tindakan pelanggaran hak azazi manusia dan dukungannya bagi terorisme.

Washington telah lama mengeluhkan sikap Suriah yang mendukung kelompok yang menentang perundingan perdamaian Timur Tengah, antara lain kepada kelompok Hamas di wilayah Palestiuna dan kelompok Hezbollah di Lebanon.

Kedua kelompok itu menurut AS adalah kelompok teroris.

Hubungan dengan Washington sempat membaik saat Suriah mengikuti konferensi Internasional di Annapolis, Maryland, November lalu bersama-sama negara-negara sahabat AS, Arab Saudi, Mesir dan Jordan untuk mencanangkan dimualainya kembali proses perundingan perdamaian.

Namun kondisi yang mendingin itu kini tampaknya telah mengkristal dengan adanya sejumlah kejadian.

Seorang perwira tinggi Angkatan Laut AS mengatakan Rabu bahwa Aramada AL AS, USS Ross dan USS Philippine Sea telah membebaskan USS Cole untuk mengambil posisi di sebelah timur Laut Tengah yang terletak di selatan perairan Suriah.

"Hal itu menunjukkan komitmen kami untuk menjaga stabilitas di wilayah tersebut," kata Bryan Whitman juru bicara Pentagon,

Aramada The Cole ditemnpatkan di perairan Lebanon yang memberi tanda kekhawatiran AS akan krisis politik di Lebanon.

Perpecahan antara anngota parlemen Lebanon yang sebagian besar pro-Barat dan pihak oposisi yang pro-Suriah dan Pro Iran telah membuat krisis politik berkepanjangan di Lebanon dan hingga kini tidak memiliki pemimpin.

Februari Departemen Keuangan mengatakan telah memasukkan nama empat orang kedalam daftar hitam yang memberikan bantuan berupa uang dan senjata kepada kegiatan kelompok Al-Qaeda di Irak melalui Suriah.

Selain itu juga Departemen Keuangan AS mengumumkan telah membekukan semua aset milik sepupu Presiden Bashar al=Assa sebagai salah satu bagian dari sanksi yang menargetkan sejumlah orang penting yang menurut AS diduga melakukan pelanggaran "Korupsi".

Dan pada peringatan tahun ke tiga pembunuhan perdana Menteri Rafiq Hariri, Presiden Bush menuntut pelaku pembunuhan diadili dan agar diakhirinya pengaruh Suriah dan Iran di Lebanon. Suriah dan Iran menolak tuduhan tersebut. (kpl/dar)