"Sebelumnya petani cukup senang menanam vanili bukan hanya di areal perkebunan, namun hingga pekarangan rumah," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Irfan Zahidi di Mataram, Sabtu.
Dalam dua tahun terakhir harga komoditi vanili mengalami kemerosotan sehingga petani rugi total dan sebagian petani mengalihkan tanamannya ke komoditi lain seperti jambu mete dan kakao.
"Harga vanili basah sekarang hanya Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram, sedangkan tahun 2004 dan 2005 bisa mencapai Rp430.000 hingga Rp450.000 per kilogram," katanya.
Anjloknya harga vanili tersebut membuat para pengusaha vanili di NTB kebingungan, karena kini harga turun dari harga ratusan ribu menjadi belasan ribu.
Tanaman sekaligus produksi vanili kebanyakan berada di Lombok Barat bagian utara dan Lombok Timur, terutama di desa-desa yang berada di perbukitan dengan produksi vanili rata-rata sekitar 87 ton per tahun.
Vanili Lombok, NTB memiliki kekhasan dibanding dengan vanili dari provinsi lain di Indonesia antara lain memiliki aroma yang khas dan panjangnya sekitar 25 cm.
Produksi vanili Lombok hampir seluruhnya diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Singapura dan Hongkong, namun permintaan vanili dari luar negeri tahun ini hanya sedikit.
"NTB dalam setiap tahun rata-rata mengekspor vanili sebanyak 50 ton tetapi untuk tahun 2007 hingga Juni baru sekitar lima ton," katanya.
Dengan terjadinya penurunan harga vanili itu maka dikhawatirkan gairah para petani untuk mempertahankan atau mengembangkan jenis tanaman ikut terpengaruh.
"Untuk itu, diharapkan ada upaya dari instansi teknis terkait mencarikan jalan keluar antara lain mencari pasar baru atau mengolah hasil produk agar menjadi lebih baik dan bervariasi," katanya. (*/lin)