
Direktur WWF Indonesia Mubariq Ahmad dalam konferensi pers di media center Java Jazz Festival, Sabtu malam, mengungkapkan sejarah membuktikan sejumlah panggung musik dunia menjadi peristiwa yang penting untuk menggemakan pesan-pesan perubahan dalam memerangi masalah sosial, misalnya beberapa artis dunia yang melakukan kampanye bahaya kelaparan pada 1986.
"Satu langkah kecil oleh setiap individu penonton jazz akan membawa kita pada kondisi lingkungan hidup yang lebih baik," katanya.
Program 'Java Jazz Go Green' merupakan kerja sama Java Jazz Production dengan Conservation International Indonesia, WWF Indonesia The Nature Conservancy, serta sejumlah media massa yang mendukung kegiatan ini.
Sementara itu aktris Dian Sastro yang mewakili lembaga Conservation International mengungkapkan selama Java Jazz Festival berlangsung telah disediakan tempat-tempat sampah khusus di sekeliling tempat berlangsungnya acara.
Tempat sampah ini dibagi tiga jenis pembuangan sampah, yakni sampah organik (berlabel hijau), sampah kertas (berlabel abu-abu), dan sampah non-organis (berlabel merah).
"Aku juga menghimbau pada pengunjung untuk datang ke gerai Java Jazz Go Green untuk mendapat penjelasan lebih rinci tentang cara penanganan sampah yang cinta lingkungan," katanya.
Dian menjelaskan pengunjung Java Jazz juga dapat secara langsung mempelajari dan mempraktekkan cara mendaur ulang sampah dengan dibantu para pemandu yang ada di sejumlah titik.
"Bersama para pemandu, pengunjung dapat berpartisipasi langsung memilah dan memisahkan sampah untuk disalurkan pada pemulung maupun langsung diproses di tempat menjadi kompos," tambahnya.
Kotor
Sayangnya seruan Dian Sastro agar pengunjung peduli lingkungan dengan membuang sampah di tempatnya belum mendapat sambutan sebagian besar pengunjung.
Pada hari pertama festival jazz ini berlangsung, di luar halaman Balai Sidang yang berdekatan dengan gerai makanan terlihat sampah bungkus makanan berserakan dan menumpuk di berbagai tempat.
"Tempat sampahnya bagus, tapi isinya sedikit dan jumlahnya sepertinya terbatas sehingga banyak pengunjung yang membuang sampah seenaknya karena tempat sampah yang ada sudah penuh," kata seorang pengunjung, Ardi.
Sedangkan berdasarkan pantauan, sampah berupa bekas bungkus makanan dan minuman kemasan seringkali ditinggalkan pemiliknya begitu saja di meja atau kursi setelah mereka menyaksikan penampilan artis di atas panggung. Beruntung petugas kebersihan gedung selalu berkeliling untuk memungut sampah tersebut.
"Sepertinya kampanye yang dilakukan pihak Java Jazz tenggelam di antara kemeriahan Java Jazz sehingga program ini kurang mendapat dukungan dari penonton. Padahal program ini sangat bagus untuk menggugah kepedulian pecinta jazz mencintai bumi dengan melakukan langkah-langkah kecil yang sangat berarti," demikian ujar penonton dari Jakarta Pusat. (kpl/rit)
Lihat Profil: Dian Sastrowardoyo