Kepada wartawan di Medan, Minggu (9/3) malam ia menjelaskan, untuk terciptanya pemilu yang jujur Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga harus jujur dan terbuka serta siap untuk diperiksa peralatan komputernya.
Menurut Amien, KPU harus bersedia membuka software (perangkat lunak) komputernya dan diperiksa oleh seluruh partai politik agar tidak ada lagi manipulasi dan penipuan hasil perhitungan suara.
"Saya bukan menuduh tetapi sangat yakin jika software komputer KPU pada Pemilu 2004 tidak beres," katanya.
Amien Rais juga mengharapkan agar sistem quick count (perhitungan cepat) yang dilakukan selama ini tidak diterapkan lagi.
Sistem quick count dinilai penuh manipulasi dan sangat membuka peluang terjadinya penipuan dalam perhitungan suara.
Hasil yang diumumkan melalui quick count sering hanya berpegang pada jumlah perhitungan awal dan tidak berubah peringkatnya hingga akhir perhitungan suara.
Ironisnya sistem itu diakui sangat bagus oleh beberapa pakar yang diduga telah "dibayar" oleh kelompok tertentu dan dinyatakan sebagai metode yang diterapkan di negara maju.
"Padahal sistem quick count adalah akal-akalan dan sama sekali tidak pernah diterapkan di negara maju," katanya.
Selain faktor di atas, tambah Amien, setidaknya ada dua faktor lagi yang memungkinkannya maju sebagai capres, yakni terdapatnya hasil polling yang masuk akal dan adanya peluang besar untuk menang.
Amien Rais tidak mau "tergoda" oleh hasil polling yang merupakan rekayasa semata, akal-akalan dan tidak memiliki dasar yang jelas.
Selain itu Amien Rais juga tidak ingin mengikuti pemilihan presiden sekedar untuk menyalurkan "nafsu politik" dan sekedar "pantas-pantasan" semata.
"Jika demikian, saya lebih baik menyatakan dukungan bagi kalangan muda untuk maju sebagai presiden," katanya. (*/cax)

Gary Barlow
Mark Owen
Howard Donald
Robbie Williams
Jason Orange


