< >

Pelarian Tokoh Garis Keras Singapura Tamparan Bagi PM Lee

Senin, 10 Maret 2008 18:46
Kapanlagi.com - Kaburnya seorang pemimpin gerilyawan Muslim dari penjara Singapura, Mas Selamat bin Kastari menggegerkan negara kota itu, kendati masih belum jelas bagaimana tersangka melarikan diri, kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Surat kabar The Straits Times, Senin (10/3), dengan mengutip PM Lee mengatakan kaburnya Mas Selamat bin Kastari, tokoh garis keras jaringan Jamaah Islamiyah (JI) pada 27 Februari itu adalah karena kepuasan diri sendiri di antara para pejabat keamanan.

"Pelarian itu tidak dapat diragukan lagi merupakan langkah mundur dan seharusnya itu tidak pernah terjadi," kata PM Lee dalam komentar pertama di depan umum tentang pelarian tersangka yang dianggap mengancam keamanan global tersebut.

"Itu adalah bahaya dari kepuasan diri sendiri, (karena kita) mengira bahwa segala sesuatu telah beres," kata Lee. Ia mempertanyakan, "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita sama sekali tidak mengira."

Pemerintah tidak menjelaskan bagaimana Kastari, yang diduga telah melarikan diri tanpa senjata dan berjalan dengan pincang, merusak bagian tengah tahanan, sebagian lain mengatakan seorang aparat keamanan menuntun tersangka ke toilet.

Tokoh JI itu dipersalahkan atas serangkaian serangan bom mematikan di kawasan Asia Tenggara, termasuk bom di Bali pada 2002 --yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Lee mengatakan pemerintah tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa Kastari telah meninggalkan Singapura, dan berarti ada "kesempatan baik" untuk menangkap dia bila ia masih berada di Singapura.

Para ahli mengatakan pelarian itu memalukan Singapura, yang dianggap berpengalaman dalam sistem keamanan.

Mereka mengatakan Kastari "mungkin telah pergi ke Indonesia", karena di sana ia dapat mendapat bantuan dari jaringan JI setempat.

Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama dan ayah PM Singapura sekarang, sebagaimana dikutip, mengatakan Singapura "akan kembali dihantam" pada suatu saat bila Kastari telah pergi ke Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia, sebagaimana dikutip, mengatakan Kastari tidak akan dikirim kembali ke Singapura jika ditangkap di Indonesia karena kedua negara tidak memiliki perjanjian ektradisi.

Singapura, sekutu erat AS dan menjadi pusat bisnis negara-negara Eropa, menganggap dirinya sebagai target utama di kawasan itu.

Singapura menyatakan pihaknya berhasil menggagalkan upaya JI pada 2001 untuk menyerang bandaranya, dan tempat-tempat yang bertalian dengan Barat, termasuk kedutaan besar AS. (kpl/dar)