"Kecuali untuk jangka panjang, saya optimistis bisa. Kalau sekarang kan rakyat Iran sama saja dengan rakyat Indonesia, menghadapi masalah krisis energi. Rakyat di sana juga antre panjang untuk mendapatkan jatah minyak," ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan hal itu menanggapi kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan membawa rombongan besar, termasuk sejumlah anggota DPR RI ke Iran, ke empat negara yakni Iran, Senegal, Afrika Selatan dan Uni Emirat Arab.
Kunjungan itu, menurut Jeffrey Massie, tak lebih dari sekadar pemenuhan etika tata pergaulan dunia karena sebagai kunjungan balasan atas kedatangan Presiden Ahmadinejad ke Jakarta tahun lalu.
Jeffrey Massie tak menanggapi serius tentang sikap delegasi Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB), akhir pekan lalu, yang memilih abstain saat voting untuk melahirkan resolusi baru (ketiga) mengenai sanksi atas Iran terkait pengembangan energi nuklir.
"Yang saya tahu, Indonesia pada resolusi sebelumnya mendukung penambahan sanksi terhadap Iran. Kalau sekarang sebagai anggota tidak tetap DK PBB memilih abstain, itu juga saya pikir tak penting bagi Iran yang butuh sikap tegas," tandasnya.
Jeffrey Massie malah mengaku belum memahami sepenuhnya maksud dari kunjungan Presiden ke Iran itu.
"Saya juga kurang paham dengan kunjungan Presiden ke Iran. Mungkin berhubungan dengan masalah energi. Tetapi kalau berkaitan dengan itu (energi minyak dan lain-lain), maka saya pikir tidak akan terlalu membantu," katanya.
Sebab, menurut dia, Iran pun sedang kesulitan meski cadangan minyak Iran adalah ke-2 terbesar di dunia. (kpl/dar)