Bupati Sidoarjo Win Hendrarso kepada pers di Sidoarjo, Selasa mengatakan, pihaknya tidak memiliki anggaran untuk memberi jatah makan kepada pengungsi secara terus menerus.
"Saya sekarang terus berpikir agar mereka tetap mendapat bantuan makan. Namun, Pemkab Sidoarjo tidak mungkin menganggarkan dana untuk makan pengungsi," katanya.
Menurut dia, selama sekitar tiga pekan sejak mengungsi (10/2) di eks tol Porong, jatah makan mereka dimintakan kepada Lapindo Brantas dengan dalih kemanusiaan.
Hal itu dilakukan, karena sesuai Perpres 14 tahun 2007, Desa Besuki ketika itu masih di luar peta terdampak lumpur, sehingga bukan menjadi tanggung Lapindo.
Win menjelaskan, untuk jatah makan pengungsi sebanyak sekitar 1.500 orang, setiap hari untuk tiga kali makan dibutuhkan dana sekitar Rp30 juta.
"Untuk kebutuhan dana sebanyak itu tidak mungkin Pemkab mengeluarkannya karena hal itu di luar anggaran," katanya.
Dengan kondisi seperti ini, ia berharap jual beli (ganti rugi) tanah dan bangunan di kawasan Desa Besuki, Kedungcangkring dan Pejarakan, melalui dana pemerintah segera direalisasikan.
Dengan demikian, para pengungsi bisa segera pindah dari pengungsian dan mencari rumah kos atau membeli rumah baru.
Minta Dipercepat
Sementara itu, para pengungsi lumpur asal Desa Besuki ini kembali mendesak pemerintah mempercepat pembayaran ganti rugi.
Itu karena sudah satu bulan lebih, rumah mereka yang terendam lumpur, belum ada kejelasan kapan dibayar oleh pemerintah.
Ali Mursyid, salah satu perwakilan warga Besuki mengatakan, untuk mengatasi masalah pengungsi yang masih bertahan di eks tol itu, pemerintah harus segera membayar ganti rugi kepada warga kawasan itu.
"Kalau sudah ada pembayaran ganti rugi, warga yang mengungsi akan segera pindah, karena mereka sudah mempunyai uang untuk membeli rumah lagi," katanya.
Ia mengatakan, saat ini warga Besuki enggan pindah dari pengungsian, karena mereka tidak mau membersihkan lumpur yang merendam rumahnya. Apalagi, lumpur yang sudah merendam rumah warga itu sulit dibersihkan.
"Masih bertahannya pengungsi di tenda-tenda, merupakan tekanan agar pemerintah segera mengucurkan ganti rugi," kata Mahmudi, pengungsi Besuki lainnya.
Ia menambahkan, warga akan bertahan terus di pengungsian, sebelum tuntutannya dipenuhi. (*/rsd)