Gotovina dan dua jenderal lainnya, Ivan Cermak dan Mladen Markacnya dituduh sebagai otak pembunuhan ratusan orang dan pengeboman serta pembumi-hangusan kota-kota dan desa-desa etnik Serbia di wilayah Krajina, Kroasia, pada tahun 1995.
"Orang Serbia tunggang langgang karena panik dan hal itu direncanakan. Bagi yang tinggal , hidup berubah menjadi mimpi buruk," kata jaksa PBB, Alan Tieger di pengadilan.
Kroasia selama bertahun-tahun ditekan untuk menyerahkan para tersangka penjahat perang, dan hal itu berakhir pada 2005 dengan penangkapan Gotovina di Canary Isles, Spanyol.
Penangkapannya memicu protes besar di Kroasia, tapi di sisi lain, pemerintah Zagreb akhirnya diundang untuk memulai pembicaraan bergabung dengan Uni Eropa.
Krajina, yang terletak di Kroasia selatan, sudah berabad-abad ditempati etnik Serbia dan mereka menguasai wilayah itu serta mengusir minoritas Kroasia pada 1991, seiring Kroasia akan pecah dari Yugoslavia.
Jaksa mengatakan bahwa Gotovina, (52), dan para terdakwa lainnya merencanakan "Operasi Badai" untuk merebut kembali wilayah itu pada Agustus 1995.
Perebutan kembali Krajina tidak dipermasalahkan namun dakwaan menyebutkan terjadi aksi kejahatan terhadap kemanusiaan dan aksi kejahatan perang saat operasi militer besar-besaran dilakukan. Operasi itu menghancurkan desa-desa dan rumah-rumah warga Serbia.
Jaksa mengatakan, Gotovina, sebagai panglima serangan itu, tahu ada kesewenang-wenangan terhadap warga Serbia namun membiarkan kejahatan itu dan tidak menghukum pelakunya.
Pengadilan awal itu disiarkan secara langsung lewat televisi di Kroasia namun tidak banyak mengundang reaksi negatif masyarakat.
Bruno Lopandic, seorang pakar politik luar negeri di harian Vjesnik, menyatakan saat ini Kroasia lebih memusatkan diri untuk menjadi anggota Uni Eropa.
"Pengadilan Gotovina tidak lagi jadi persoalan besar, dan ini menunjukkan bahwa Kroasia adalah satu di antara sedikit negara di kawasan ini yang telah menjunjung tinggi hukum," katanya.
Ketiga terdakwa diduga ambil bagian dalam aksi kriminal gabungan bersama mendiang presiden Kroasia, Franjo Tudjman.
Jaksa memutar rekaman yang menunjukkan bahwa Tudjman, meninggal tahun 1999, sedang menggambarkan propaganda penyesatan informasi dengan seolah-olah menjamin HAM warga Serbia. Rekaman itu diakhiri dengan apa yang dinilai jaksa sebagai "tawa karena tahu ".
Jaksa juga mengutip Tudjman yang menggambarkan orang Serbia di Krajina sebagai "kanker di perut Kroasia", dan negara multi-etnik adalah "tak dapat bertahan".
Pengadilan Den Haag sebelumnya pada tahun 2004 dan 2007 menghukum tokoh Serbia Krajina, Milan Babic dan rekannya, Milan Martic, karena peran mereka dalam mengusir etnik Kroasia di Krajina.
Serbia Krajina pada tahun 1991 mulai mengusir warga non-Serbia dari Krajina, termasuk 80 ribu warga Kroasia.
Tentara Kroasia pada Mei 1995 merebut sebagian Krajina dan pada Agustus tahun yang sama menguasai seluruh Krajina lewat Operasi Badai.
Giliran penguasa Kroasia mengusir 200 ribu warga Serbia dan puluhan Lansia Serbia yang bertahan di tempat itu dibunuh atau rumahnya dibakar. (*/cax)