Busung Lapar Rengut Tiga Nyawa di NTB

Kapanlagi.com - Kasus busung lapar atau gizi buruk di Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak Januari hingga Maret 2008 tercatat 63 kasus, tiga orang diantaranya meninggal dunia.

"Ketiga orang yang meninggal itu bukan semata-mata karena gizi buruk, tetapi akibat penyakit penyerta seperti ISPA, diare dan Hepatitis," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Hj. Baiq Magdalena di Mataram, Rabu.

Proses untuk sampai kepada kasus gizi buruk cukup panjang mulai dari kurang gizi, gizi rendah hingga gizi buruk membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Penyebabnya hanya satu yakni anak tidak diberikan makan yang cukup, sehingga kalau diberikan makan yang cukup maka anak tidak akan menderita gizi buruk.

Jika terjadi kasus gizi buruk, maka yang diuber-uber adalah Dinas Kesehatan, sementara yang bertanggungjawab memberikan makan adalah keluarga.

"Ketika penderita gizi buruk dirawat di rumah sakit atau Puskesmas anak tersebut diberikan makanan yang cukup, sehingga keadaannya pulih kembali dan sehat, tetapi ketika pulang tidak lagi diberikan makan yang cukup, maka gizi buruknya kambuh lagi," katanya.

Dikatakan, NTB dinilai cukup berhasil dalam menekan kasus gizi buruk dan jumlah sisa kasus yang ditangani hingga kini sekitar 647 kasus dari ribuan kasus, hal itu berkat kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi busung lapar.

"Kita masih ingat dua tahun lalu kasus busung lapar yang terjadi di Kota Mataram cukup menggemparkan hingga ke tingkat nasional, namun kini hampir tidak ada lagi," katanya.

Busung lapar turun drastis karena kegigihan petugas baik tenaga kesehatan maupun kader-kader Posyandu, untuk mengantisipasi kasus gizi buruk petugas kesehatan datang ke Posyandu melakukan penimbangan bayi dua kali seminggu.

Jika ada bayi yang dinilai kurang gizi, maka diberikan makanan tambahan pengganti air susu ibu, sehingga bayi cepat pulih namun demikian masih tetap ada satu atau dua anak yang dirawat di RSUD Mataram karena kasus gizi buruk.

Dia mengatakan, bayi yang murni merupakan kasus gizi buruk sebenarnya relatif kecil, yang lebih banyak muncul adalah kasus gizi bermasalah karena adanya penyakit penyerta.

"Persoalan gizi buruk sebenarnya lebih banyak disebabkan penyakit penyerta, seperti tujuh orang yang meninggal dunia di RSU Mataram beberapa waktu lalu disebabkan oleh tuberculose dan pneumonia berat," katanya.

Penyakit penyerta tersebut menyebabkan anak tidak mau makan yang akhirnya menderita gizi buruk dan bisa saja sebaliknya karena gizi buruk menimbulkan penyakit lain.

Karena itu, diminta jangan hanya mengekspose gizi buruk karena ada penyakit penyerta yang menyebabkan balita menderita gizi buruk.

"Untuk mengatasi hal itu maka penyakitnya harus disembuhkan terlebih dahulu baru bisa ditangani perbaikan gizi, jika tidak maka masalah gizi sulit diatasi," katanya. (*/rsd)

©2003-2007 KapanLagi.com