"Sampai sekarang kami belum tahu pasti keberadaan Kastari, tapi saya yakin dia masih berada di Singapura," kata Kepala BIN Syamsir Siregar di Jakarta, Rabu, usai menghadiri rapat koordinasi bidang politik, hukum dan keamanan (Polhukam) yang membahas situasi perbatasan RI dengan sejumlah negara tetangga.
Ia mengatakan, kemungkinan tersangka teroris itu lari ke Indonesia dan bergabung dengan rekan-rekan anggota Jamaah Islamiyah (JI) lainnya, belum bisa dipastikan.
"Itu masih dugaan. Sebelumnya, dia kan sempat lari ke Thailand dan Filipina, sekarang diduga lari ke Indonesia. Baru dugaan. Kalau dia masuk Indonesia, yaa kita tangkap," ujar Syamsir.
Meski begitu, Kepala BIN memastikan Kastari tidak akan bertemu lagi dengan anggota atau mantan anggota JI jika berada di Indonesia.
Sebelumnya, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew mengingatkan agar pemerintah Singapura bersikap waspada terhadap kemungkinan Kastari ke Indonesia dan bertemu anggota JI untuk kembali melakukan aksi terorisme.
"Siapa bilang begitu. Gak benar itu. Ya kalau masuk Indonesia kita tangkap. Dan kenapa kita harus takut, sama satu orang saja kok harus takut," ujar Syamsir.
Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai menilai lolosnya Kastari meningkatkan ancaman ke seluruh kawasan Asia Tenggara.
Tidak hanya itu, lolosnya Kastari dari Penjara Whitley Road, Singapura, diprediksi akan kembali menggabungkan diri dan membangun jaringan lamanya, terutama di Indonesia.
Ansyaad mengatakan, Kastari bukan tidak mungkin menjalin hubungan dengan pentolan teroris di Indonesia yang belum tertangkap, Noordin M Top. Ia juga meminta semua pihak tak gegabah atau menerima begitu saja berbagai spekulasi tentang lolosnya Kastari.
Ansyaad menilai masuk akal jika Kastari melarikan diri ke Indonesia. "Indonesia memang paling mudah dijadikan tempat bersembunyi. Ibaratnya, dari segi nama, yang namanya Slamet itu bisa ribuan di Pulau Jawa ini saja," ujar Ansyaad. (*/rsd)