Namun al-Attiyah mengatakan kepada jaringan satelit Al-Jazeera yang bermarkas di Doha, bahwa dia secara pribadi 'berada di luar skenario ini,' karena Presiden AS George W. Bush hanya mempunyai sedikit waktu sebelum meninggalkan Gedung Putih.
"Dalam kasus jika Bush memutuskan mengancam menyerang Iran, harga minyak mungkin akan melonjak ke tingkat yang tidak pernah terjadi sebelumnya, mungkin sampai US$200 atau bahkan US$300, atau bahkan lebih atau kurang dari itu," kata menteri Qatar itu.
Meskipun pihaknya menolak memutuskan suatu opsi militer, namun pemerintahan Bush secara teratur mengatakan bahwa pihaknya tidak punya rencana untuk menyerang Iran, manakala negaranya berkonfrontasi dengan negara Islam yang dituduh menjalankan program nuklir itu.
Al-Attiyah juga mengaitkan rekor kenaikan harga minyak saat ini dengan `ketegangan-ketegangan politik dan spekulasi kelangkaan suplai minyak` pada beberapa bulan lalu.
Bush mendesak Perhimpunan Negara-negara Penghasil Minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksinya. Ia mengatakan bahwa tingginya harga minyak adalah bagian dari upaya untuk memperlambat ekonomi AS. Harga minyak mentah naik di atas US$110 per barel untuk pertama kalinya terjadi di bursa perdagangan New York, Rabu.
OPEC beranggotakan 13 negara termasuk empat negara Arab di kawasan Teluk, yakni Qatar, Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Al-Attiyah mengatakan, OPEC tidak berencana akan mengalihkan dari harga minyak mentah dalam dolar, meskipun mata uang AS jatuh ke tingkat yang berlawanan dengan euro dan nilai tukar lain di tengah-tengah melambatnya pertumbuhan ekonominya, kecuali jika disetujui oleh semua negara penghasil minyak.
"Anggota-anggota OPEC mengekspor hanya 40% dari kebutuhan minyak dunia setiap hari atau setara dengan sekitar 85 juta barel per hari. Semua produser minyak dunia seyogianya sepakat mengenai penggantian kepada nilai tukar lain" dan itu akan segera diberlakukan, ujarnya, seperti dikutip DPA. (*/lin)