"Petani kedelai di Grobogan kini tengah menikmati keemasan harga kedelai yang melambung tinggi di pasaran," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Grobogan, Achmad Sumarsono, di Grobogan, Kamis.
Menurut Achmad, kalangan petani Grobogan sebelumnya lebih memilih menanam padi ketimbang menanam kedelai karena harganya tidak bisa diharapkan untuk menyangga kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun, usai harga kedelai di pasaran melonjak tinggi, katanya, banyak petani Grobogan yang kini mulai melirik lagi tanaman kedelai. Dengan menanam kedelai petani berharap mampu meraih keuntungan.
Ia mengatakan, harga kedelai di tingkat petani kini sebesar Rp6.300,00 per kg. Padahal sebelumnya harga kedelai selalu di bawah harga gabah karena itu tidak heran jika petani mulai melirik untuk menanam kedelai.
Petani kedelai Kabupaten Grobogan saat ini menyumbang 38 % dari produksi kedelai Jawa Tengah. "Kontribusi ini lebih besar dibandingkan kontribusi dari daerah lain," katanya.
Bahkan, ada petani di Grobogan yang saat panen kedelai seluas sekitar 1,5 hektare mampu meraup uang Rp21 juta. Padahal sebelumnya keuntungan sebesar itu tidak pernah terpikirkan para petani.
"Rasanya seperti mimpi bisa meraih Rp21 juta saat panen kedelai di tengah-tengah harga kedelai di pasaran melambung tinggi," kata Ali Muhtar (36) petani kedelai Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan.
Luas tanaman kedelai di Kecamatan Tawangharjo yang meliputi enam desa mencapai 360 hektare dengan perincian Desa Tarub 85 hektare, Pojok (90 ha), Plosorejo (70 ha), Tawangharjo (30 ha), Selo (35 ha), dan Godan (50 ha).
Ali menjelaskan, umur panen kedelai yang menggunakan bibit unggul varietas Grobogan (malabar) di Kecamatan Tawangharjo berkisar antara 50-58 hari. "Hanya dengan waktu 2 bulan kita bisa memanen kedelai," katanya. (*/rsd)