"Israel akan menanggung semua akibat kejahatan biadabnya terhadap rakyat kami," kata pernyataan dari kantor Presiden Mahmud Abbas.
"Rakyat kami tetap berhak atas tanah mereka dan akan meneruskan perlawanan mereka untuk membebaskannya dari penjajah dan penghuninya serta untuk mendirikan negara dengan Yerusalem sebagai ibukota," katanya.
Pernyataan itu keluar sesudah pasukan khusus Israel menyerang kota Bethlehem di Tepi Barat pada Rabu, yang menewaskan empat pejuang.
"Kejahatan biadab itu menampakkan wajah asli Israel, yang berbicara keras tentang perdamaian dan keamanan sambil melakukan pembunuhan dan penghukuman terhadap rakyat kami," kata pernyataan tersebut.
"Meskipun semua tuduhan palsu pemerintah Israel tentang niatnya pada perdamaian, dalam kenyataannya, mereka menggelar permukiman di Yerusalem dan tempat lain, mengabaikan pernyataannya di Annapolis, belum lagi bencana biadab terhadap rakyat kami, wanita dan anak-anak di Gaza," katanya.
Serangan Rabu itu tampak mengakhiri ketenangan lima hari kekerasan di seluruh Jalur Gaza, saat pejuang di wilayah kekuasaan Hamas itu melanjutkan serangan roket dan tentara melancarkan serangan udara.
Tak ada yang cedera akibat kekerasan tersebut.
Ketenangan lima hari di Gaza berakhir dengan kekerasan Kamis, ketika pesawat Israel menghantam sasaran di Gaza utara setelah selusin roket ditembakkan ke arah Israel selatan dari Jalur Gaza, kata tentara Israel.
Roket dari Jalur Gaza itu menghantam kota perbatasan Israel, Sderot, namun dilaporkan tidak ada korban.
Pada Rabu, tentara Israel menewaskan lima pejuang Palestina saat mereka menahan serangan di Jalur Barat utara dan selatan, sementara Jihad Islam bersumpah akan membalas kematian Karkour, pemimpin Brigade Al Quds, sayap bersenjata Jihad Islam.
Gaza secara umum tenang beberapa hari lalu dan anggota kelompok pejuang mengurangi serangan roket terhadap Israel selatan dan tentara Israel, yang mengurangi gerakan di wilayah itu, di tengah laporan bahwa berbagai pihak mencapai pemahaman gencatan senjata tak resmi.
Pemimpin Hamas Ismail Haniya pada Rabu menyeru pengakhiran kucilan ekonomi ke Jalur Gaza dan gencatan senjata menyeluruh di Gaza dan Tepi Barat.
Perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza tak membantu menciptakan dasar bagi perdamaian dan dapat mengakibatkan kerusakan abadi bagi ekonomi Jalur Gaza, kata pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan kemanusiaan pada Rabu.
Pada Januari, Israel menutup perbatasan dengan Jalur Gaza sebagai tanggapan atas serangan roket Palestina terhadap Israel selatan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan tindakan tersebut mengakibatkan bencana kemanusiaan bagi 1,5 juta orang di wilayah itu, kebanyakan di antara mereka bergantung pada bantuan asing.
"Itu sama sekali tak kelihatan seperti dasar, yang membuat Anda dapat menciptakan penyelesaian perdamaian, karena pada akhirnya, itu harus dibangun berdasarkan atas dialog politik dan kepercayaan serta harapan, bukan di atas kekecewaan dan kebencian serta penghinaan," kata John Holmes, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan Kemanusiaan, dalam wawancara. (kpl/dar)