< >

Dua Jembatan Yang Dibangun Jepang Buka Isolasi Indonesia Selatan

Jum'at, 14 Maret 2008 08:40
Kapanlagi.com - Dua jembatan yang dibangun pemerintah Jepang di Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) senilai hampir Rp80 miliar membuka isolasi tidak hanya wilayah selatan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetapi juga kawasan selatan Indonesia.

"Pembangunan jembatan ini diharapkan membuka isolasi kawasan selatan Indonesia," kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, ketika meresmikan Jembatan Menu dan Fatuat yang dibangun dengan dana hibah dari Jepang itu, di Nunkolo, Kamis.

Dia mengatakan, pembangunan jalan dan jembatan itu, selain meningkatkan pertumbuhan arus lalu lintas juga pertumbuhan ekonomi di wilayah Timor.

Pembangunan poros selatan Pulau Timor, lanjut dia, secara dominan akan membuka "aksesbilitas" kawasan dan mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas yang mendukung perekonomian.

Dengan perhatian terhadap pembangunan jalan dan jembatan, menurutnya, produk pertanian dan perikanan bisa terdistribusikan ke pasaran.

Sebelum pemerintah Jepang memutuskan untuk memenuhi permintaan dari pemerintah Kabupaten TTS yang disampaikan melalui Menteri PU, kali Menu dan Fatuat tidak bisa dilalui, namun kini setelah dua jembatan itu dibangun mobilisasi masyarakat dan transportasi dari dan ke wilayah itu lebih terbuka.

Dengan pembangunan dua jembatan itu, maka pemerintah tinggal membangun sekitar tiga jembatan lagi untuk menghubungkan seluruh kawasan selatan Pulau Timor yang terbentang mulai dari Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hingga ke Kabupaten Belu yang berbatasan dengan negara Timor Leste.

Data yang diperoleh dari Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) NTT, panjang Jembatan Menu mencapai 260 meter dan lebar tujuh meter, terdiri atas enam meter lebar jalan dan trotoar di kiri dan kanan masing-masing setengah meter.

Sementara Jembatan Fatuat yang terletak sekitar 500 meter ke arah barat dari Jembatan Menu memiliki panjang 129,7 meter dengan lebar tujuh meter.

Kedua jembatan itu dibangun oleh kontraktor dari Jepang, "Hazama Corporation" dan konsultan, Katahira & Enggineers International Jepang.

Bupati Kabupaten TTS, Drs. Daniel Banunaek, kepada pers mengatakan, pemerintah kabupaten juga meminta Jepang untuk membangun bendungan untuk menaikkan permukaan air bawah tanah, agar kawasan itu selain dikembangkan untuk lahan basah, juga untuk perkebunan singkong dan tebu.

Bupati Banunaek mengatakan, pengembangan singkong dan tebu itu akan dijadikan bahan baku pembuatan etanol yang menurut rencana pabriknya akan dibangun di Kabupaten Belu yang berbatasan dengan TTS.

Dia mengaku, sudah ada investor yang menyatakan keinginannya untuk melakukan investasi bagi pengembangan ribuan hektar lahan potensial untuk singkong dan tebu, namun enggan menyebutkan nama investor tersebut.

Bupati Banunaek juga mengatakan, Agen Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dan Hazama Corporation telah melakukan penghitungan jauh ke depan untuk pengembangan kawasan sekitar proyek, agar kehadiran kedua jembatan itu, memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan.

Sekretaris Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Takasi Muronaga pada kesempatan itu mengatakan, pemerintah dan rakyat Jepang berharap, pembangunan kedua jembatan itu bisa memperlancar transportasi antar-wilayah dan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. (*/lin)