< >

Dalai Lama Prihatinkan Kekerasan di Tibet

Jum'at, 14 Maret 2008 20:26
Kapanlagi.com - Dalai Lama, pemimpin rohani Budha Tibet terasing, Jumat menyatakan secara "prihatin mendalam" atas keadaan di Tibet dan mengimbau China "berhenti memakai kekerasan" di sana.

"Saya secara mendalam prihatin atas keadaan, yang berkembang di Tibet, sesudah unjuk rasa damai di banyak bagian Tibet, termasuk Lhasa, pada beberapa hari terahir," kata penerima Nobel Perdamaian itu dalam pernyataannya, yang dikeluarkan di Dharamshala, India.

"Unjukrasa itu adalah bentuk kemarahan orang Tibet, yang berurat akar di bawah pemerintahan saat ini," katanya.

"Saya oleh karena itu memohon pemimpin China berhenti memakai kekerasan dan menangani kemarahan lama orang Tibet lewat pembicaraan dengan orang Tibet," katanya.

Pemimpin Eropa Bersatu pada Jumat menyeru pemerintah China menunjukkan "pengendalian diri" sesudah kekerasan di Tibet, kata menteri luar negeri Prancis dan Inggris.

"Kami menyeru sangat jelas bahwa hak asasi manusia dijamin. Pengutukan sangat mungkin, di antara negara anggota Eropa Bersatu, kata Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner.

Ibukota Tibet, Lhasa, meledak dalam kekerasan pada Jumat saat pasukan keamanan menggunakan tembakan untuk memadamkan unjuk rasa terbesar terhadap kekuasaan China dalam dua dasawarsa, kata saksi dan kelompok hak asasi.

Sedikit-dikitnya belasan orang luka dan dibawa ke rumah sakit sesudah unjuk rasa di ibukota Tibet, Lhasa, Jumat, kata juru rawat rumah sakit di sana kepada kantor berita Prancis AFP.

Luka itu diperoleh dalam kekerasan di tengah Lhasa, yang juga menjadi saksi sejumlah toko dibakar pada sekitar pukul 14.00 (13.00 WIB), kata kantor berita resmi Xinhua.

Xinhua menyatakan beberapa kendaraan juga dibakar, dengan menambahkan bahwa unjuk rasa itu masih berlangsung pada 16.30 (15.30 WIB).

"Ada beberapa pasien --sedikit-dikitnya selusin-- diobati dokter dan beberapa diopname. Mereka mendapat luka luar," katanya kepada AFP, dengan menambahkan bahwa tak ada yang tewas di sarana itu.

Juru rawat lain dari Rumah sakit Rakyat memberitahu AFP bahwa mereka tidak bisa memastikan rincian yang luka.

Ia menyatakan mereka diperintahkan pemerintah tidak mengatakan apa pun.

Laporan tentang luka itu keluar saat kebakaran terjadi di pasar dan jalan dekat candi Jokhang di bagian kota tua Lhasa.

Kerusuhan itu terjadi sesudah tiga hari unjuk rasa biksu di Lhasa, yang menjalar ke biara di pedalaman Tibet dan luar propinsi tersebut.

Terjadi pula unjuk rasa warga Tibet di pengasingan di seluruh dunia.

Ratusan rahib terlibat dalam unjuk rasa sebelumnya pada pekan ini di Lhasa, kata kelompok hak asasi.

Kampanye Antarbangsa untuk Tibet pada Jumat pagi menyatakan tentara mengepung biara, di tengah ketakutan akan penumpasan oleh pemerintah Cina.

Kementerian Luar Negeri Cina menegaskan bahwa Tibet adalah bagian dari Cina dan tidak ada negara di dunia mengakui Tibet sebagai negara merdeka.

"Tidak ada negara di dunia mengakui Tibet sebagai negara merdeka," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Qin Gang dalam keterangan pers berkalanya di Beijing pada Kamis.

Hal tersebut dikemukakannya menjawab pertanyaan wartawan mengenai sikap Cina terhadap gerakan mendukung Tibet dan Dalai Lama, yang terus menekan agar Cina memberikan kemerdekaan kepada salah satu wilayah negara itu. (*/rsd)