Kanselir Jerman Lakukan Kunjungan Bersejarah ke Israel

Kapanlagi.com - Kanselir Jerman Angela Merkel akan melakukan perjalanan ke Israel Minggu untuk kunjungan bersejarah yang berarti besar lebih dari 60 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Merkel akan menjadi kanselir Jerman pertama yang berbicara dengan Knesset ketika ia menyampaikan pidato di parlemen Israel itu Selasa, penghormatan yang dicadangkan biasanya bagi kepala negara.

Pada Minggu ia akan mengunjungi Sde Boker, kibbutz di padang pasir Negev tempat perdana menteri Israel pertama David Ben Gurion dikubur dan tempat pada 1966 Ben Gurin bertemu dengan Konrad Adenauer, kanselir pertama Jerman Barat.

Merkel, kanselir Jerman pertama yang lahir setelah perang itu, akan melawat ke Israel disertai oleh sejumlah anggota penting kabinetnya untuk konferensi penuh antar-pemerintah.

Jerman sebelumnya hanya mengadakan pertemuan seperti itu dengan Perancis, Italia, Spanyol, Rusia dan Polandia, dan kabinet Israel akan membalas kunjungan itu pada 2009.

Kunjungan itu juga tiba sebelum perayaan ulang tahun ke 60 pembentukan Israel Mei. Republik federal Jerman akan menandai hari kelahirannya sendiri yang ke 60 pada 2009.

Itu "barangkali kunjungan paling penting yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin pemerintah Jerman," kata dubes Israel di Berlin Yoram Ben-Zeev, yang telah membawa hubungan yang "sangat baik" ke tingkat yang lebih tinggi.

Joschka Fischer, bekas tokoh sayap kiri dan kemudian menlu Jerman, pernah mengatakan bahwa mengingat holocaus, adalah luar biasa bahwa Jerman dan Israel memiliki semacam hubungan sama sekali".

Namun lebih dari 60 tahun sejak mata dunia terbuka pada horor Auschwitz, Jerman adalah mitra dagang dan politik paling penting Israel di Eropa, di belakang AS.

Pernah tak dapat dipertimbangkan, kedua negara itu telah memiliki hubungan diplomatik penuh -- sesuatu yang belum diatur dengan beberapa tetangga Israel -- selama hampir 43 tahun.

Meskipun Merkel ingin Jerman memainkan peran lebih besar dalam upaya untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah, kunjungan itu akan dipusatkan pada hubungan bilateral dan konflik dengan Palestina tidak akan menjadi topik besar, kata pakar.

Berlin telah berkata dengan tegas menentang permukiman Israel dan mengecam aksi militernya di Jalur Gaza, tapi Merkel tidak akan melakukan perjalanan singkat dari Jerusalem ke Ramallah untuk menemui presiden Palestina Mahmud Abbas.

"Kunjungan itu tidak memiliki agenda politik tinggi. Itu lebih untuk kunjungan simbolis," kata Patrick Mueller dari Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan.

Masalah itu mungkin bukan sepenuhnya tidak ada, bagaimanapun, dalam pembicaraan antara Merkel dan PM Israel Ehud Olmert. Hubungan antara Merkel dan Olmert dianggap oleh sejumlah pengamat sebagai hangat, dengan kanselir konservatif berusia 53 tahun itu mengambil sikap tegas terhadap Iran dan berkunjung ke Israel hanya dua bulan setelah terpilih.

Membutuhkan dua tahun pendahulunya Gerhard Schroeder yang beraliran kiri-tengah untuk melakukan perjalanan itu.

Adalah Adenauer, tokoh politik penting Jerman pasca perang, yang melakukan langkah pertama ke arah normalisasi hubungan dalam pidato 1951 di parlemen Jerman yang menyatakan tanggungjawab rakyat Jerman pada holocaus.

Tidak sampai sembilan tahun kemudian Adenauer bertemu dengan Ben Gurion di New York dan dibutuhkan lima tahun lagi bagi kedua negara untuk mengadakan hubungan diplomatik penuh, sesuatu yang Jerman Timur komunis tidak lakukan.

Dengan sejumlah orang yang selamat dari holocaus masih hidup di Israel, Merkel tidak dapat mengharapkan akan disambut baik dengan tangan terbuka oleh setiap orang.

Keinginannya untuk berpidato pada Knesset, misalnya, tidak dalam bahasa Inggris tapi bahasa Jerman -- "bahasa pelaku kejahatan" seperti dikatakan oleh beberapa orang Israel -- telah menggelepai bulu sementara orang.

Ketika Johannes Rau menjadi kepala negara Jerman pertama pada 2000 yang berpidato di Knesset, ia melakukannya dalam bahasa Jerman dan beberapa anggota parlemen Israel mengamuk di ruang itu sebagai protes.

Horst Koehler, pengganti Rau dan kepala negara sekarang ini, mendapat penyambutan hangat lima tahun kemudian dan termasuk beberapa kalimat dalam bahasa Ibrani dalam pidatonya. (kpl/dar)

©2003-2007 KapanLagi.com