Saat berbicara dengan harian "Telegraph" dari Exeter, New Hampshire, McCain menambahkan bahwa ia "sangat berterima kasih" untuk sumbangan Inggris baik ke Irak maupun Afganistan, tempat sekitar 4.100 hingga 7.800 tentara Inggris masing-masing ditempatkan.
"Dengan segala hormat, saya tetap prihatin pada keadaan di Basra," kata McCain kepada koran tersebut.
"Ada unsur berbeda, yang mengambilalih daerah tertentu. Setiap orang tahu itu, bukan rahasia, dan Jenderal (David) Petraeus (panglima pasukan Amerika Serikat di Irak) prihatin juga," katanya.
Menurut "Telegraph", McCain akan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown di London pada pekan mendatang.
"Saya sangat berterima kasih untuk peranserta Inggris baik di Irak maupun Afganistan dan kesinambungan bantuan mereka di Afganistan," katanya.
"Tentu, kami akan senang sekali mendapat bantuan penuh dari setiap negara di dunia," katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa penarikan tuntas tentara Amerika Serikat dari Irak akan menyebabkan "pembantaian dan kekacauan di seluruh kawasan itu".
Seorang wanita dan anak-anak Irak tewas sesudah rumahnya dihantam oleh yang tentara Inggris katakan mungkin salah tembak, kata polisi dan pejabat kesehatan kepada kantor berita Prancis AFP pada pekan lalu.
Polisi di Basra, kota kedua Irak, menyatakan peristiwa tersebut terjadi ketika tentara Inggris balas menembak sesudah pejuang meluncurkan roket di pangkalan mereka di pelabuhan udara kota itu pada Minggu.
"Beberapa roket ditembakkan dari daerah Haiyniyah, Basra tengah, ke arah pelabuhan udara itu," kata jurubicara polisi Kolonel Karim Zaidi mengutip keterangan saksi.
"Sesudah itu, tentara Inggris balas menembak dan satu pelurunya menerjang rumah di lingkungan Shuala, Haiyniyah, membunuh seorang wanita dan satu anak-anak. Empat anak-anak juga luka," katanya.
Ia menyatakan kepala polisi Basra Brigadir Jenderal Abdel Jalil Khalaf sudah menghubungi tentara Inggris.
"Tentara menjamin kami bahwa penyelidikan sudah dilakukan untuk memeriksa kejadian itu. Mereka menjamin kami bahwa korban akan diberi ganti rugi jika terbukti mereka tewas oleh tembakan tentara Inggris," katanya.
London memastikan bahwa penyelidikan sudah dilakukan.
"Pemeriksaan sedang berlangsung untuk menentukan apakah itu diakibatkan oleh peluru lontaran 2 Maret di dekat Hyall Shuala," kata jurubicara kementerian pertahanan.
"Kami bekerja dengan polisi Basra untuk menyelidiki sebab dan akibat kejadian itu," katanya, "Kami tidak menyasar daerah permukiman dengan tembakan senjata berat."
"Kami mempunyai aturan keras, yang mengatur penggunaan peluru, yang dimaksudkan untuk menjamin kerusakan sampingan ditekan sampai mutlak kecil," katanya.
Inggris mempunyai sekitar 4.100 tentara di Irak, kebanyakan dari mereka ditempatkan di pelabuhan udara Basra.
Pejuang memberondongkan roket ke pangkalan Inggris di Irak selatan pada akhir Januari, hingga melukai dua tentara Inggris, kata jurubicara tentara.
Pelabuhan udara di Basra dihantam serangkaian roket pada pagi hari, yang diduga diluncurkan dari kota sekitar 12 kilometer dari sana, kata jurubicara Inggris Kapten Finn Aldrich. (kpl/dar)