"Meski belum ada kasus gizi buruk namun hampir seratus balita di daerah ini masuk dalam kategori BGM," ujar Kepala Dinas Kesehatan Barut Drs Bambang Edhy Prayitno kepada wartawan di Muara Teweh, Jumat.
Sesuai hasil identifikasi pihak kesehatan setempat pada Januari 2007 menunjukkan data balita sebanyak 10.818 balita yang tergolong BGM mencapai 118 kasus.Namun kasus itu terus turun pada awal tahun 2008 turun menjadi 91 balita.
Perkembangan balita yang mengalami kondisi BGM terbanyak di wilayah Puskesmas Lahei I Kecamatan Lahei sebanyak 31 kasus termasuk delapan kasus di Desa Karendan, Puskesmas Kandui 13 balita dan Puskesmas Ketapang 11 kasus masing-masing di Kecamatan Gunung Timang.
Dijelaskan Bambang, untuk mengantisipasi terjadinya kasus gizi buruk kami telah memberikan dana ke 14 Puskesmas di daerah ini untuk pemberian makanan tambahan (PMT) percontohan senilai Rp43,3 juta dan khusus Puskesmas mendapat Rp14 juta dan PMT pemulihan bagi balita BGM senilai Rp31,5 juta.
"Kami juga telah mendistribusikan makanan sereal ke 72 Puskesmas pembantu (pustu) tersebar di enam kecamatan," katanya didampingi Kabid Pelayanan Kesehatan, drg Dwi Agus Setijowati.
Dalam mengantisipasi terjadinya kasus gizi buruk di kabupaten pedalaman Sungai Barito ini pihaknya minta penanganannya harus bersama-sama dengan masyarakat, sebab pemenuhan gizi merupakan bagian dari ketahanan pangan dalam keluarga.
"Kasus yang muncul selama ini akibat ketidak mampuan daya beli, kesadaran pemenuhan pangan dan asupan pada tingkat usia kerawanan gizi yang tinggi," jelas Bambang Edhy Prayitno. (*/cax)