"Ternyata masyarakat korban tsunami Aceh masih mengingat musibah itu dan perlu adanya simbol fisik yang menjadi kenangan bagi mereka," kata Annemarie Samuels yang melakukan penelitian tentang kondisi Aceh pasca tsunami di Banda Aceh, Jumat.
Mahasiswa Universitas Leiden Belanda itu menulis dalam disertasi guna meraih gelar Doktornya mengenai simbol-simbol tsunami di Kota Banda Aceh.
Dalam penelitiannya, ternyata simbol-simbol formal yang menjadi bukti kedahsyatan "gelombang raya" yang menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir Aceh itu banyak yang hilang.
Hilangnya simbol tersebut menurut dia karena kurangnya koordinasi untuk menjaga tempat ingatan seperti rencana menjadikan beberapa tempat sebagai monumen tsunami contohnya Masjid Ulee Lheue. Tetapi sebelum rencana tersebut dilaksanakan masjid sudah direhabilitasi.
Namun simbol formal seperti puluhan tugu tsunami yang dibangun atas bantuan Jepang hampir di seluruh wilayah yang terkena tsunami di Kota Banda Aceh sama sekali kurang mendapat perhatian dari masyarakat.
"Masyarakat tidak peduli dengan tugu-tugu itu padahal bisa menjadi dokumen sebagai bukti bahwa tsunami yang dahsyat pernah terjadi di daerah itu," katanya.
Ternyata ingatan masyarakat mengenai musibah tersebut yang menjadi simbol informal masih melekat kuat seperti cerita-cerita saat tsunami terjadi dan akibat dari tsunami itu sendiri. Karena itu dia menilai perlu dibangunnya museum tsunami yang menyimpan sisa kejadian tersebut sebagai bukti formal. (*/cax)