< >

Tiga Biara Tibet Ditutup Setelah Demonstrasi

Sabtu, 15 Maret 2008 15:57
Kapanlagi.com - Pemerintah Cina telah menutup rapat-rapat tiga biara di Tibet, kata laporan Jumat, setelah gelombang unjuk rasa jalanan yang jarang terjadi di wilayah Budha, terpencil yang pemerintahnya menjadi pusat bagi kecaman menjelang Olimpiade Beijing itu.

Demonstrasi itu, yang juga merembes ke sejumlah provinsi Cina yang didiami oleh orang Tibet, mulai awal pekan ini setelah berbaris keliling dunia untuk menandai ulang tahun ke 49 pemberontakan yang gagal terhadap pemerintah komunis.

"Semua tiga biara ditutup rapat-rapat bagi wisatawan, Kampanye Internasional untuk Tibet yang bermarkas di Washington menyatakan, dengan menyebut operator pariwisata. "Ada suasana ketakutan dan ketegangan yang makin intensif di ibukota Tibet."

Pada Senin, 500 rahib dari biara Drepung melakukan unjuk rasa di Lhasa, yang kemudian diikuti aksi dari para rahib di biara Lhasa-area Sera dan Ganden. Personil keamanan telah menembakkan gas air mata pada sedikitnya satu dari demonstrasi itu, kata laporan tersebut.

Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, melarikan diri ke pengasingan di India setelah pemberontakan 1959, sembilan tahun setelah pasukan Cina menyerang.

Unjuk tantangan pekan ini mungkin untuk menakuti pemimpin Cina karena negara itu sedang berusaha untuk menjamin lingkungan yang stabil bagi Games itu, yang akan dibuka pada 4 Agustus.

Radio Free Asia (RFA) yang didanai oleh pemerintah AS melaporkan bahwa para rahib dari Sera melakukan mogok makan, minta penarikan pasukan paramiliter Cina dari kompleks biara dan pembebasan sejumlah rahib yang ditahan awal pekan ini.

Dua rahib dari Drepung dalam keadaan kritis setelah berupaya bunuh diri dengan membelah pergelangan tangan mereka, kata RFA.

"Sejumlah orang Tibet yang ditahan tidak dapat dipastikan,, tapi kelompok pengawas mengatakan mereka telah memperkirakan pembalasan pemerintah.

"Ada indikasi bahwa pemerintah telah memulai proses penyelidikan di biara yang dapat menghasilkan penahanan dan penyiksaan," Kampanye Internasional untuk Tibet mengatakan.

Human Rights Watch yang bermarkas di New York minta pada Cina, dan juga Nepal dan India, yang telah menyaksikan demonstrasi yang sama, untuk membebaskan orang Tibet yang ditahan.

"Demonstrasi damai dilindungi menurut hukum internasional dan domestik, dan demo itu seharusnya diizinkan, tidak dibubarkan dengan kasar," Sophie Richardson, direktur penasehat Asia kelompok itu, menyatakan. (*/cax)