Jumlah kasus gizi buruk tersebut berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Depok selama Januari-Februari tahun 2008.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Mien Hartati, di Depok, Selasa mengatakan penghasilan ekonomi yang rendah dan rendahnya pengetahuan orang tua tentang gizi yang baik bagi anak menjadi penyebab utama munculnya gizi buruk tersebut.
"Rata-rata mereka yang bergizi buruk tinggal di permukiman padat yang cenderung kumuh," kata Mien.
Ia mengatakan untuk mengetahui seorang anak termasuk gizi buruk atau tidak, diperlukan pengecekan standar berat badan dengan validasi umur, dan berat badan dengan validasi tinggi badan.
Gizi buruk biasanya disebabkan dua faktor. Pertama, anak memang murni kekurangan asupan gizi karena keterbatasan ekonomi. Kedua, adanya penyakit penyerta seperti jantung dan pencernaan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Mien mengatakan, pihaknya telah melaksanakan program berupa penyuluhan, pemantauan dan perbaikan gizi buruk dengan memberikan makanan tambahan terhadap 600 balita selama 90 hari.
Selain itu, kata dia, juga memberikan makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI) kepada 2.169 balita selama 90 hari, dengan mengerahkan 6.319 tenaga perawat yang tersebar di seluruh Kota Depok.
Lebih lanjut Mien mengatakan pihaknya telah menyediakan Traffic Heading Center yang dapat digunakan sebagai tempat rawat inap, yang tersedia di Puskesmas Cimanggis dan Sukmajaya.
Dana untuk program tersebut berasal dari APBD 2007 sebesar Rp1,129 miliar untuk pemberian makanan pendamping dan Rp2,74 miliar untuk puskesmas rawat inap.
Selama tahun 2007, Dinkes Kota Depok mencatat 959 penderita gizi buruk, yang berasal dari enam kecamatan, yaitu Kecamatan Pancoran Mas merupakan kecamatan yang memiliki penderita gizi buruk paling banyak yaitu 321 balita, diikuti Cimanggis (228), Sawangan (122), Sukmajaya (124), Limo (104) dan Beji (60).
Penduduk Miskin
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Depok, Khamid Wijaya, mengakui jumlah penduduk miskin di Kota Depok pada tahun 2006 mencapai 124 ribu jiwa.
Sedangkan program penanggulangan kemiskinan yang ada dinilai kurang optimal dalam mengatasi kemiskinan.
Menurut dia, kontribusi terbesar dalam masalah kemiskinan adalah pengangguran. Untuk itu Pemkot Depok terus berupaya melaksanakan program pengentasan kemiskinan tepat sasaran.
Jumlah penduduk miskin tersebar di enam kecamatan, yaitu di Kecamatan Sawangan terdapat 21.235 jiwa dari 5.173 KK, Kecamatan Limo 9.851 jiwa (2.455 KK), Kecamatan Beji 11.044 jiwa (2.595 KK), Kecamatan Pancoran Mas sebanyak 28.232 jiwa (6.479 KK), Kecamatan Cimanggis 30.702 jiwa (7.576 KK), dan Kecamatan Sukmajaya 23.642 jiwa (5.148 KK).
Akibat kemiskinan ini, kata Khamis masalah sosial semakin pelik. Misalnya, angka kematian ibu mencapai 10 orang per 100 ribu kelahiran, angka kematian bayi 27,17 per 1000 kelahiran hidup.
Selain itu, sebanyak 63 ribu jiwa merupakan pemanfaatan askeskin dan 23 ribu penerima raskin.
Belum lagi di bidang pendidikan, sekitar 654 siswa terpaksa putus sekolah akibat ketiadaan biaya. Sedangkan perumahan, ada sebanyak 1.639 rumah yang tidak layak huni.
Adapun angka pengangguran sampai tahun 2005, tercatat 8,48% dari angkatan kerja yang sekitar 617 ribu jiwa. (*/rsd)