Hal ini cukup strategis karena kegiatan pembelanjaan anggaran tahun 2008/2009 akan terancam, kata Tjahjo Kumolo, di Semarang, Sabtu.
Ia menilai, APBN tahun 2008 cukup kritis dan pemerintah harus berani melakukan evaluasi terbuka bersama DPR. "Ekspetasi pemerintah jangan terlalu tinggi," katanya.
Menurut dia, pemerintah mengajukan harga asumsi minyak hanya US$85 per barel, tetapi realitanya harga minyak dunia mencapai US$110 per barel, sehingga asumsi itu sudah tidak realistis seharusnya posisi wajar kalau masih pada kisaran US$90 per barel.
"Kalau pemerintah masih mempertahankan angka tersebut berarti ada kemungkinan pertengahan tahun anggaran akan terjadi defisitnya semakin besar dengan asumsi tetap pada angka US$90 per barel," kata Tjahjo yang juga anggota Komisi XI DPR.
Perkiraan positif subsidi yang harus ditutup, katanya, yakni antara Rp145 triliun masih akan ditambah subsidi PLN sebesar Rp35 triliun. Hal ini kalau patokan harga minyak masih US$90 per barel sehingga subsidinya akan mencapai sekitar Rp150 triliun.
Untuk itu, ia berharap, konsekuensinya sangat luas dampaknya dan APBN 2008 cukup bahaya, sehingga pemerintah harus terbuka untuk jujur mengetahui kemampuannya sendiri dan pemerintah jangan membohongi diri sendiri demi menjaga image.
"Apapun APBN tetap sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional, sektor riil sekarang ini masih belum tumbuh. Target pemerintah dalam setahun pertumbuhan 6,4%, mana mungkin bisa terealisasi, sedangkan dalam lima bulan terakhir ini pembangunan belum berjalan masih terhambat dengan revisi APBN," katanya. (*/cax)