< >

Kulminasi Matahari di Pontianak Terhalang Mendung

Selasa, 25 Maret 2008 12:06
Kapanlagi.com - Mendung yang menyelimuti langit Kota Pontianak sejak pagi hingga pukul 12.00 WIB, membuat ratusan warga tidak bisa menyaksikan secara langsung detik-detik kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa, Selasa, pukul 11.50 WIB.

"Saya sejak pagi tadi sudah mendatangi tugu ini, tetapi saya awang mendung peristiwa kulmunasi tidak tampak," kata wisatawan dari Belgia, Lise Ceyssans, di Pontianak.

Peristiwa alam kulminasi matahari hanya terjadi di lima negara, meliputi Kalimantan Barat (Indonesia), Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brazil.

Ia mengatakan sudah sepekan berada di Pontianak, dan datang khusus dari Belgia karena ingin melihat langsung peristiwa alam yang langka terjadi. "Beruntung pada Minggu (23/3) sebelumnya sudah mendatangi Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan langsung peristiwa itu," katanya.

Walikota Pontianak, Buchary Abdurrachman mengatakan, kulminasi matahari merupakan proses matahari melintasi garis khatulistiwa/equator secara tetap. Itu terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 21 - 23 Maret dengan titik kulminasi tepat pukul 11.50 WIB, dan 21 - 23 September dengan titik kulminasi tepat pada pukul 11.38 WIB.

Pada saat itu, tidak terlihat adanya bayangan dari sebuah tongkat yang berdiri tegak karena matahari berada tegak lurus di atas kepala.

Buchary mengatakan, selain melewati Kota Pontianak, garis khatulistiwa juga melewati beberapa kota lainnya di Indonesia, dan lima negara di Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brazil.

"Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia ini yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa yaitu Kota Pontianak sehingga menjadi ciri khusus," katanya.

Ia mengatakan, momen penting seperti titik kulminasi, bukan saja menjadi aset Pemerintah Kota Pontianak tetapi juga merupakan aset nasional yang harus dikembangkan dan dilestarikan.

Diakuinya, acara guna menyaksikan fenomena alam itu, mesti dikemas lebih baik lagi agar para wisatawan luar Kalbar tertarik untuk menyaksikannya secara langsung.

Pemkot Pontianak merangkai peringatan titik kulminasi tersebut dengan berbagai acara kesenian, seperti tari Jepin Tembong dari sanggar Bogenville, tari Dayak dari sanggar Borneo Trigas, lomba catur tingkat SD hingga SMA se-kota Pontianak untuk memperebutkan hadiah Walikota Pontianak.

Sihol, 13, salah seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) VII mengatakan, dirinya dan puluhan teman satu sekolahnya sengaja mendatangi Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan langsung peristiwa titik kulminasi yang selama ini sering dibicarakan orang.

"Saya penasaran untuk melihat secara langsung peristiwa tersebut," kata Sihol meskipun warga Kota Pontianak, tetapi belum pernah melihat secara langsung peristiwa alam tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan Informasi dan Komunikasi Kota Pontianak, Sugeng Harjo berharap ke depan peringatan titik kulminasi bisa dirangkai dengan berbagai acara kesenian lainnya, karena titik kulminasi terjadi hanya beberapa menit saja. Kalau tidak diikuti acara kesenian lainnya, maka minat masyarakat atau turis asing yang akan menyaksikan akan berkurang. (*/cax)