Kematian Dulmatin Masih Jadi Kontroversi di Filipina
Kapanlagi.com - Militer Filipina, Selasa mengatakan pihaknya masih menunggu hasil-hasil dari satu tes DNA untuk mengetahui apakah satu mayat yang ditemukannya Februari lalu adalah Dulmatin, yang sedang dicari pihak berwenang karena terlibat dalam serangan bom Bali. Tes-tes itu dilakukan oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) AS dan polisi lokal, kata militer sehari setelah laporan-laporan media Indonesia mengatakan mayat itu bukan Dulmatin. "Kami sedang menunggu hasil-hasil resmi tes-tes DNA yang dilakukan oleh FBI/PNP (polisi lokal ). Jika itu bukan Dulmatin, mayat tersebut adalah seorang gerilyawan," kata jurubicara militer Letkol Bartolomer Bacarro, Selasa. Militer menemukan mayat itu di sebuah lokasi pemakaman di pulau Tawi-Tawi, Filipina selatan, Februari lalu. Mereka mengatakan mayat itu diidentifikasi secara positip sebagai Dulmatin oleh seorang mantan anggota kelompok garis keras Islam yang bekerjasama dengan dia di selatan. Tetapi jurubicara kepolisian nasional Indonesia Anton Bachrul Alam yang dikutip suratkabar The Jakarta Post, Senin mengatakan itu bukan mayat Dulmatin. Anton mengatakan satu tim Indonesia telah dikirim ke Filipina untuk memeriksa mayat tersebut dan "kami menegaskan bahwa mayat yang digali dari kuburan itu bukan Dulmatin." Dulmatin dan rekan Indonesianya Umar Patek bersembunyi di hutan-hutan Filipina selatan bersama dengan gerilyawan lokal dari kelompok Abu Sayyaf selama lima tahun belakangan ini, kata para pejabat intelijen di Manila. Dulmatin diduga cedera dalam satu kontak senjata awal tahun ini. Pemerintah AS menawarkan hadiah US$10 juta bagi penangkapan Dulmatin dan satu juta dolar untuk penangkapan Patek. Keduanya adalah anggota Jemaah Islamiyah yang dicari karena terlibat dalam serangan-serangan bom Oktober 2002 di Bali yang menewaskan 202 orang termasuk banyak wisatawan asing. (*/rsd) |