"Itu masih pertumbuhan yang baik. Proyeksi 6,0% terutama disebabkan baiknya kebijakan makro ekonomi, terutama kebijakan fiskal. Dan penurunan itu cukup tipis karena hanya dari 6,4% menjadi 6,0%," kata Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan, level 6,0% masih memungkinkan penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, meskipun tidak secepat level 7-8%. "Enam persen masih cukup bagus untuk Indonesia di tengah ekonomi global yang sedang terguncang," jelasnya.
Ditanya apakah pertumbuhan bisa lebih tinggi dari level tersebut jika pemerintah bisa memanfaatkan momentum tingginya harga komoditas, von Amsberg mengatakan, jika pemerintah bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga produk komoditas global, maka pemerintah akan punya ruang untuk menambah subsidi yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial dan publik.
Dia menambahkan, saat ini ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan pemerintah untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, yaitu memperbaiki iklim investasi, mempermudah akses pendidikan, dan sistem jaring pengaman sosial yang efektif dan tepat sasaran.
"Jika Indonesia ingin mencapai pertumbuhan di atas 6,0%, maka Indonesia harus bergantung pada tingkat investasi yang tinggi baik, pemerintah atau swasta," tuturnya. (*/lin)