Subak yang diwarisi masyarakat Bali, khususnya petani secara turun temurun menitikberatkan pada pendekatan astronomik, biologis dan klimatologis, kata gurubesar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan, pendekatan itu merefleksikan tentang derajat kearifan sains dan teknologis, sekaligus memperkenalkan berbagai keunggulan teknologi tradisional dalam konstruksi bangunan terowongan (aungan).
Metode pembagian air sistem tradisional berdasarkan atas sistem 'tetek' yakni menekankan asas keadilan dan pemerataan yang rasional sesuai dengan luas lahan garapan masing-masing anggota subak.
Windia yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan itu menilai, dalam sistem subak juga mengandung kearifan dalam bidang keamanan terhadap seluruh tahap kehidupan bertani, mengamankan terhadap hasil produksi dan area wilayah pertanian.
Setiap subak memiliki tapal batas kesatuan wilayah yang secara geografis patut diamankan. Batas wilayah subak dikenal dengan batas hidrologis.
Pengamanan dilakukan secara menyeluruh mulai dari pencemaran, perusakan oleh hewan, pencurian oleh manusia sampai dengan pengamanan terhadap serangan hama.
Dalam rangka pengamanan pembagian air, subak memiliki mekanisme dan person pengontrol air. Demikian juga pengamanan gangguan dari hewan, memiliki peraturan (awig-awig) dengan sistem denda.
Pengamanan dari ancaman pencurian, memiliki sekaa sambang dan dalam mengantisipasi ganguan hama, seperti hama tikus. Anggota subak meiliki kebiasaan memburu tikus dan melakukan kegiatan ritual yang disebut 'nangluk merana' yang diyakini tanaman padi dan jenis komoditas lainnya tidak akan diganggu hama.
Dengan demikian menurut Windia subak berkembang dalam dua dimensi, 'skala-niskala', yakni kegiatan nyata dan tidak nyata. Masyarakat dan kebudayaan Bali bergerak secara dinamik dan berubah. Dalam satu dekade terakhir dinamika itu semakin cepat, besar dan akseleratif.
Faktor-faktor yang mendorong dinamika dan perubahan sangat beragam, antara lain Kesesakan ekologi, konversi lahan, Kepadatan, heteroginitas demografi, keterbukaan lokal, nasional, global.
Transformasi kultur dari budaya agraris ke dagang dan berlanjut ke bidang pariwisata, menyebabkan semakin terbuka jalur cepat bagi modernisasi dan globalisasi yang secara empirik lebih besar manghadirkan resiko dibandingkan manfaat, ujar Wayan Windia. (*/bun)