Sekjen D8, Dipo Alam, kepada ANTARA, di sela kegiatan D8 "Expert Meeting On The Roadmap And The Draft Of Statutory Documents For The Permanent Secretariat" di Sungai Liat Bangka, Senin malam, mengatakan, upaya peningkatan volume perdagangan sesama anggota D8 akan terus dilakukan dengan menerapkan kebijakan "Preferent Trade Aggrement" dan fasilitas bebas visa.
"Dalam 10 tahun mendatang, total nilai perdagangan sesama anggota D8 diharapkan sudah mencapai 10-15% dari total perdagangan delapan negara itu dengan seluruh dunia. Ketika Bali menjadi tuan rumah pertemuan itu pada 2006, total perdagangan baru US$35 miliar," ujar Dipo.
Didampingi Sekretaris Direktur Jendral Hubungan Multilateral Deplu, Budi Bowoleksono, Dipo menegaskan, ada komitmen kuat antara sesama anggota D8 untuk meningkatkan transaksi perdagangan mereka.
D8 merupakan organisasi dari delapan negara berkembang dengan penduduk Muslim terbesar di dunia berpopulasi di atas 50 juta jiwa kecuali Malaysia.
Ke-8 negara itu adalah Indonesia, Nigeria, Turki, Pakistan, Mesir, Iran, Bangladesh dan Malaysia.
Untuk meningkatkan volume perdagangan, D8 yang memiliki sekretariat di Ankara Turki itu telah membentuk 12 kelompok kerja (working group), di antaranya sektor perbankan, jasa, perdagangan, pariwisata, industri dan perhubungan.
Dalam hal melaksanakan proses perdagangan dan perundingan, Dipo mengklaim D8 bahkan lebih cepat dibanding apa yang dilakukan organisasi perdagangan bebas dunia (WTO).
Pemberian fasilitas PTE dalam mendorong percepatan perdagangan juga tidak menyalahi regulasi apa pun. "Kita mengandalkan populasi muslim terbesar di dunia. Semua anggota dalam kondisi siap melakukan perdagangan, mungkin hanya Iran yang kini dalam tekanan internasional," ujarnya.
Organisasi ini rencananya akan melaksanakan pertemuan tingkat tinggi/summit di Malaysia pada 7-8 Juli 2008 dalam menentukan peta kerja sama koridor organisasi empat tahun ke depan.
Dalam pertemuan di Sungai Liat, dihadiri 29 delegasi, minus Bangladesh. Delegasi yang hadir di antaranya Usama Al Magdoub (Mesir), Feriba Duygu Hokkaci (Turki), Mirza Salman Babar (Pakistan), Mr. Eng R.N. Okenwa (Niegeria) dan Morteza Daman (Iran). (*/lin)