< >

Vaksin Ebola Segera Diuji ke Manusia

Selasa, 01 April 2008 17:04
Kapanlagi.com - Salah satu penyakit paling berbahaya di dunia yang disebabkan virus Ebola tak lama lagi bisa dicegah penularannya, sebab vaksin Ebola telah sukses diujikan terhadap primata dan dalam waktu dekat bakal diujikan ke tubuh manusia.

Tim peneliti dari Amerika dan Kanada yang dipimpin Dr Anthony Sanchez melaporkan perkembangan tersebut dalam pertemuan ke-162 Komunitas Mikrobiologi Umum yang digelar di gedung Pusat Konferensi Internasional Edinburgh, Senin (31/3).

"Ancaman biologi yang disebarkan oleh virus Ebola tidak bisa kita abaikan. Wabah Ebola yang mematikan terus merebak," kata Sanchez, seperti dikutip dari situs www.eurekalert.com - situs informasi terkini perkembangan sains dan teknologi.

Sanchez mengatakan, dengan pola transportasi perjalanan lintas benua dan pariwisata yang berkembang demikian masif beberapa waktu terakhir telah membuat Ebola menyebar dari tempat paling terasing ke seluruh belahan di dunia.

"Dan Ebola sudah menjadi potensi terbesar bagi hadirnya senjata berupa bio-terorisme. Kita benar-benar membutuhkan perlindungan berupa vaksin," ungkapnya.

Sampai saat ini, tercatat sekitar 1.500 kasus demam akibat virus Ebola terjadi di seluruh dunia. Gejala awal sakit akibat virus ini antara lain berupa demam, sakit kepala, tenggorokan kering, lemas, pilu otot, diare, dan sakit perut.

Gejala lain yang kerap ditunjukkan oleh orang yang terpapar Ebola adalah bintik-bintik merah di kulit, mata merah, dan mata berdarah.

Demikian mematikannya penyakit ini sehingga menurut statistik, angka kematian akibat virus Ebola mencapai 90%, artinya hanya 10% saja pasien virus Ebola yang dapat selamat.

Karena sifatnya yang sangat mematikan, upaya memproduksi dan menguji vaksin Ebola sangatlah sulit dilakukan oleh para ahli. Salah satu faktor yang menghambat penelitian vaksin Ebola ini adalah minimnya fasilitas perlindungan laboratorium yang bisa melindungi staf peneliti.

"Virus Ebola punya ancaman tingkat 4," kata Sanchez.

"Sama sulitnya dengan memperoleh staf dan fasilitas yang tepat, vaksin untuk virus seperti demam Ebola, Marburg, dan Lassa juga susah diproduksi karena mereka `membunuh` virus-virus yang memacu antibodi darah. Untuk virus-virus yang mematikan seperti Ebola, kita perlu mendapat respon sel yang segera, yang melibatkan produksi sel-T pembunuh sebelum kekebalan tubuh cukup kuat untuk mencegah atau menangkal infeksi," kata dia menjelaskan.

Para peneliti saat ini menggunakan berbagai teknik re-kombinasi DNS, yang memungkinkan mereka memicu respon sel dan memproduksi vaksin yang efektif terhadap primata bukan-manusia.

Salah satu kandidat vaksin yang akan diujikan kepada manusia untuk pertama kalinya adalah vaksin yang sudah memasuki fase uji-klinis pertama pada 2006.

"Infeksi virus Ebola di dalam tubuh manusia memang bisa sangat mematikan, tapi monyet membuktikan berhasil selamat dari infeksi virus tersebut dan ini bisa menjadi contoh yang sangat bermanfaat bagi uji-coba terhadap binatang," katanya.

Pengujian vaksin Ebola yang menggunakan primata bukan-manusia menunjukkan hasil yang gamblang, dan memberikan perkembangan yang menjanjikan bagi hadirnya vaksin pelindung, tambahnya.

"Keberhasilan uji-coba vaksin di tubuh manusia ini akan jadi berita gembira buat kita semua, karena kita bisa membekali tenaga medis kita bila wabah Ebola merebak. Kita bisa mencegah angka kematian yang tinggi dan mengendalikan penyebaran penyakit berbahaya ini," kata peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat itu.

Selain mengumumkan perkembangan penelitian mereka, tim dari Amerika Serikat juga berharap temuan ilmiah mereka bisa memacu penelitian di vaksin penyakit menular lainnya seperti virus Marburg, HIV, dan flu burung. (*/cax)