Deputi Direktur Pemasaran Pertamina Hanung Budya di Jakarta, Selasa mengatakan, peningkatan pasokan tersebut untuk mengatasi kenaikan permintaan elpiji dan tabung 12 kg akibat konsumen elpiji kemasan 50 kg beralih ke 12 kg.
"Mulai hari ini, pasokan elpiji dan tabung 12 kg di Jakarta dinaikkan 20 % dan di Jatim 10 %," katanya.
Hanung mengakui, saat ini, sebanyak 5-10 % konsumen elpiji tabung 50 kg beralih ke 12 kg sejak kenaikan harga 50 kg pada Januari lalu.
Pada 7 Januari lalu, Pertamina menaikkan harga elpiji kemasan 50 kg sebesar 35,5 % dari Rp5.852 per kg jadi Rp7.932 per kg dan curah naik 25,2 % dari Rp5.882 jadi Rp7.329 per kg. Sementara, harga 12 kg adalah Rp4.250 per kg.
Konsumen tabung 50 kg adalah pelanggan komersial seperti hotel, restoran, dan cafe. Sedang, 12 kg adalah rumah tangga dan konsumen curah adalah industri.
Dengan demikian, meski pasokan mencukupi, terjadi peningkatan tekanan permintaan tabung 12 kg.
Saat ini, stok elpiji di Jakarta aman yakni cukup buat kebutuhan enam hari dan Jatim 4,4 hari ke depan.
Hanung juga mengakui, akibat fenomena pengalihan tersebut, memang terjadi antrian elpiji 12 kg di sejumlah tempat.
"Namun, setelah dicek, tidak semua konsumen rumah tangga, sebagian besar yang antri malah pengecer. Pengecer tersebut menggunakan beberapa orang, sehingga terjadi antrian panjang," katanya.
Ia juga mengatakan, berdasarkan pengecekan, harga elpiji kemasan 12 kg di Jakarta dan Banten masih normal antara Rp55.000-65.000 per unit. Harga resmi Rp52.000 per tabung 12 kg.
Hanung juga menambahkan, dengan harga elpiji cukup tinggi di pasar internasional sekarang ini, Pertamina memperkirakan kerugian bisnis elpiji tahun 2008 mencapai Rp5,4 triliun.
Kerugian tersebut dengan asumsi rata-rata harga elpiji CP Aramco tahun 2008 sebesar 730 dolar AS per ton, sehingga Pertamina harus menyubsidi konsumen 12 kg sebesar Rp5.139 per kg, 50 kg Rp1.543 per kg, dan curah Rp1.535 per kg.
Estimasi konsumsi 2008 mencapai 1,251 juta ton yang terdiri dari elpiji tabung 12 kg adalah 962.000 ton, 50 kg 139.000 ton, dan curah 150.000 ton.
"Jika harga keekonomian elpiji seperti sekarang ini maka kerugian Pertamina dari bisnis elpiji selama 2008 diprediksi Rp5,4 triliun," kata Hanung. (*/rsd)